Kamis, 14 Juni 2018

Dulu

Setelah beberapa frekuensi pertemuan, ada rasa adiktif saat berbicara dengannya. Dalam hati aku bertanya-tanya, kenapa baru mengenalnya sekarang?

Mungkin benar bahwa akan selalu ada orang-orang yang baru kautemui, lantas sudah mengisi ruang di hatimu, seolah kau mengenalnya sejak lama. Seakan kau sudah bertemu dengannya sejak dulu dan melewati metamorfosis kehidupan bersamanya. Dan itulah yang kurasakan terhadapnya.

Sebenarnya, aku tak bisa mendefinisikan perasaanku yang sebenarnya. Yang kutahu, aku merasa nyaman di dekatnya, merasa nyaman saat hanya berjarak sekian sentimeter darinya. Aku tak berani mengatakan aku bahagia, karena selain rasa nyaman terselip rasa takut.

Ya, aku takut.

Senin, 11 Juni 2018

Kota Dingin yang Memberikan Rasa Hangat Itu Bernama London

Sumber: myvintagemap.com


LONDON, wilayah metropolitan terbesar di Britania Raya, memiliki arsitektur bangunan klasik dan masyarakat multikultural. Hal itu membuat ibu kota negara Inggris ini memiliki magnet tersendiri bagi para pelancong.

Untuk pergi ke London, butuh banyak persiapan matang. Entah harus memesan tiket pesawat yang tidak bisa dibilang murah, memenuhi syarat administrasi pembuatan visa, serta macam-macam biaya yang harus dikeluarkan saat di sana. Meski terkenal dengan living cost tinggi, para turis mancanegara—termasuk turis Indonesia—tertantang menaklukkan kota tersebut dengan budget minimalis dengan berbagai objek wisata gratis.

Bandara Heathrow menjadi tempat pertama kebanyakan turis yang pergi ke London. Kita akan disambut dengan suhu sejuk yang bisa membuat menggigil saat keluar ruangan, membuat kota ini terkesan dingin. Namun, justru itu yang membuat para pelancong penasaran untuk menyapa kota ini secara langsung.

Rabu, 06 Juni 2018

#UthaNonton - Juni 2018

Dan ternyata udah bulan Juni! Semoga bulan ini film-film yang gue tonton lebih seru, karena bulan Mei kemarin kecewa banget cuma bisa menyempatkan diri nonton dua film doang... dan nggak ada yang membekas.

23. Gonjyam: Haunted Asylum

Skor: 7/10

Setelah hilangnya dua pemuda yang merekam salah satu tempat terangker di dunia, RSJ Gonjiam, pemilik channel YouTube "Horror Times" melakukan ekspedisi untuk merekam apakah benar seangker itu. Setelah melakukan audisi, terbentuklah tim yang terdiri atas tiga cewek dan tiga cowok. Maksudnya ngerekam secara live di YT sih buat viewers naik, tapi apa daya kenyataan memang nggak selalu sesuai ekspektasi. Salah satu kelebihan film ini mungkin pengambilan gambar yang benar-benar terkesan kita lagi nonton ekspedisi horor beneran secara live. Cara pengambilannya juga cakep banget. Meski begitu, film ini nggak terlalu membekas buat gue setelah keluar dari bioskop.


Minggu, 03 Juni 2018

Pengalaman Nonton Infinity War di Imax Melbourne

Sumber: ozbargain.com.au


Gue sama sekali nggak pernah nonton bioskop di negara orang. Alasannya tentu jelas: jauh lebih mahal ketimbang nonton di Indonesia! Soalnya banyak dengar dari teman-teman yang studi atau tinggal di luar negeri, bilang harga nonton di Indonesia itu murah banget. Bahkan ada beberapa yang seneng kalau "balik kampung" ke Indonesia dan langsung movie marathon.

Tapi... saat ke Melbourne kemarin, gue menyempatkan diri untuk nonton! Sebenernya ini impulsif karena gue baca berita ini di imax.com

"Marvel's Avengers: Infinity War – Parts 1 and 2 will take the plunge and use the new Imax/Arri 2D digital camera to capture the entire two-part installment of the global franchise
The move, by directors Joe Russo and Anthony Russo, marks the first time a Hollywood feature film will be shot only using Imax cameras and its exclusive aspect ratio. The Imax/Arri 2D digital camera, which stops short of a full Imax 3D camera rig, is a customized large format version of Arri's 6K Alexa 65 camera." 

Kamis, 24 Mei 2018

#UthaNonton - Mei 2018

Kayaknya bulan ini melempemnya tontonan asyik karena rasa-rasanya nggak ada tontonan asyik. Semoga salah!

21. Deadpool 2
Skor: 6.5

Humornya memang lumayan, bahkan gue lebih suka film ini ketimbang film sebelumnya. Adegan nonsensornya juga lumayan. Plotnya tapi standar banget, jauh dari kata greget kalau buat selera gue. Best punch line: "This is so dark. You sure this isn't DC Universe?"


Rabu, 16 Mei 2018

#UthaNonton - April 2018

Bulan ini bulan paling sedikit frekuensi nontonnya. Iya, cuma tiga kali nonton! Tapi... bulan ini gue mencoba pengalaman nonton di IMAX Melbourne yang sejauh ini jadi the largest IMAX in the world.

18. A Quite Place
Skor: 8/10

Nonton ini seru dan cukup menegangkan. Gue suka premis simpel yang dieksekusi dengan baik. Salah satu film bagus pada tahun ini. Tapi entah kenapa kurang sreg sama ending-nya! Huaaa...

Selasa, 15 Mei 2018

Visa Australia Ditolak Padahal Berkas Lengkap: Apa yang Salah?

Beberapa bulan lalu, gue ikut travel fair Singapore Airlines. Tujuan gue kali ini adalah Australia. Kenapa Australia? Pertama, gue belum pernah ke benua itu. Kedua, kalau ke luar negeri, selalu kedapetan summer! Bahkan spring aja baru ngerasain sekali pas ke Jepang. Jadi, gue memutuskan untuk bisa holiday trip tapi dengan musim berbeda. Jadi, kayaknya Australia jadi benua yang pas buat gue buat cobain ke luar negeri pas autumn.

Setelah dapet tiket dengan harga yang cukup oke untuk maskapai sekelas SQ, tentu aja gue menabung, buat itinerary, dan lain sebagainya. Sampai satu bulan sebelum keberangkatan, gue harus buat visa Australia. Omong-omong, gue ke Australia bareng temen traveling ke Jepang kemarin. Alasannya, kami satu visi. Banyak orang yang suka traveling tapi visi mereka jalan-jalan itu berbeda. Nah, gue sama temen gue ini cukup cocok meski dia lebih ambisius. Tapi udah terjaminlah waktu traveling ke Jepang selama empat belas hari kalau dia cukup satu visi sama gue.


Sumber: curiositiescabi.net


Nah, sebelum apply visa, tentu aja kami cari-cari informasi. Baik dari blog, maupun temen-temen yang pernah ke Australia. Kebetulan banget juga, beberapa bulan lalu ada informasi bahwa apply visa Aussie ini bisa lewat online. Tapi, belum ada keterangan lebih lanjut yang cukup detail tentang orang Indonesia (maafkan karena kami orangnya amat sangat insecure) sampai akhir bulan Maret. Maka, kami pun memilih opsi untuk apply visa lewat VFS Australia yang terletak di Kuningan City. Tapi sebelum ke sana, salah satu teman yang baru balik liburan dari Australia bilang, "Lho, kenapa nggak lewat online aja, Tha? Temen gue kemarin submit online terus dua hari udah dapet lho." Karena udah mepet dan rasanya mager untuk menge-scan banyak dokumen, kami tetap lewat jalur walk-in alias tetap ke Kuningan City.

Senin, 09 April 2018

#UthaNonton - Maret 2018

Bulan Maret, gue nggak terlalu banyak nonton film di bioskop. Tapi... ternyata pada bulan ini gue menemukan tontonan paling seru sejak awal tahun!

14. Call Me by Your Name
Skor: 7/10

Penasaran sama film ini karena dapet penghargaan (meski nggak nonton filmnya). Lanskap ceritanya sih tipikal film festival dengan latar Italia. Tentang kisah Elio dan Oliver. Jadi pas summer si Oliver ini diundang sama ayahnya Elio yang profesor untuk proyek akademis gitu. Berbeda dengan mahasiswa kesayangan profesor lainnya, si Oliver ini membuat Elio jatuh hati. Dan mereka pun bermanis manja setelahnya. Gue pribadi nggak terlalu attach sama karakternya. Pace-nya lambat, tapi tetap bisa dinikmati. Kultur di sini luar biasa banget ya. Lo bisa ngobrol udah nggak perjaka atau perawan sama ortu lo dan itu lumrah. Dan adegan makan buah itu buat tepok jidat.

Sabtu, 07 April 2018

Menengok Naskah di Editors' Clinic Gramedia Writers & Readers Forum

Jarang-jarang gue menulis blog tentang kerjaan nih! Tapi karena memang lagi pengin ketik, ya udah deh gue nulis aja. Perlu digarisbawahi gue menulis catatan biar inget aja tadi pagi sampai siang abis ngapain. Apalah tulisan seorang Utha, editor anak bawang yang mengeditnya masih perlu ditambal-sulam (eh, bukannya penulis yang harus menambal-sulam naskahnya biar bagus, ya?).


Gue berangkat ke Perpustakaan Nasional sekitar pukul setengah sepuluh dan sampai di sana pas pukul sepuluh pagi. Karena waktu mepet sama acara gue sebelumnya, untung masih bisa denger briefing dari panitia. Gue sempet cemas juga karena ada insiden mimisan dan darah yang mengucur banyak banget. Untung bawa tisu (meski langsung habis) dan selama perjalanan di motor gue mendongak terus biar darahnya nggak mengucur.

By the way, gue deg-degan karena udah lama nggak bertatap muka sama calon-calon penulis kece. Gue memang dapet jatah untuk mengisi jadwal konsultasi naskah hari Sabtu ini dari pukul sepuluh sampai pukul dua belas. Dan gue cuma sempat mengobrol dengan enam calon penulis. Gue pun masih ingat "masalah" yang mereka alami dalam menulis. Sebenernya tulisan ini nggak mendetail banget, tapi semoga bisa paham ya apa yang gue maksud.

Calon penulis pertama ini adalah content writer. Tulisannya rapi banget, mungkin memang terbiasa menulis jadi kendala teknis sama sekali nggak ada. Ceritanya tentang romansa-fantasi. Berhubung si calon penulis ini doyan banget dorama, saat baca sinopsisnya, kental banget khas dorama Jepang. Sempat mengobrol juga dia sempat beberapa kali ikut semacam konsultasi naskah dengan editor. Wah... memang niat jadi penulis! Gue jadi seneng karena masih banyak yang pengin jadi penulis dan seniat itu sampai berkali-kali datang ke acara serupa. Tapi, gue sama sekali nggak bisa merasakan feel dari latar Jepang itu. Gue kayak baca naskah yang diketik rapi tanpa nyawa dari karakter ataupun atmosfer yang pengin calon penulis sampaikan. 

Sabtu, 03 Februari 2018

#UthaNonton - Februari 2018

Akhirnya bulan Februari! Gue excited banget dengan film-film yang bakal diputar di bioskop pada bulan ini. Februari ini, diawali dengan nonton film Indonesia!

8. Dilan 1990
Skor: 6/10


Tadinya sih gue pengin nonton yang lain, tapi akhirnya memilih film yang novelnya juga laris manis di pasaran. Sejujurnya, gue DNF (did not finish) saat baca novelnya karena bukan selera gue. Tapi, ngeliat banyak banget resensi pendek di IG Stories yang bilang film ini bagus, juga hype sekian juta penonton dalam beberapa hari, gue juga jadi penasaran. Bisa dibilang, detail yang ada di film ini bagus, istilahnya nggak buat mengernyit. Pantas saja, karena memang penulisnya juga turun tangan di film ini. Akting Iqbal juga pas banget sama Dilan, buat banyak remaja terkesiap saat dia gombalin Milea (ini terbukti satu deret ABG di depan gue pada histeris!). Sayangnya, selain blue screen yang parah saat Bunda menyetir mobil, film ini memang dibuat bersambung begitu ya, banyak yang nggak "diselesaikan", mungkin mengandalkan sekuel filmnya nanti yang bakal berjudul Dilan 1991.  Secara keseluruhan, cukup menikmati film ini, juga gombalan-gombalan nyeleneh Dilan.


Minggu, 28 Januari 2018

#UthaNonton - Januari 2018 (Bagian 2)

Karena sampai tanggal 31 Januari nanti gue nggak punya jadwal menonton di bioskop lagi, resensi singkat filmnya bisa langsung gue tulis. Nah, ini film-film selanjutnya yang gue tonton di bulan Januari.

5. 1984: When the Day Comes
Nilai: 8/10

Film sejarah Korea Selatan yang bagus! Jadi menceritakan tentang keadaan Korea Selatan pada tahun 1987. Salah satu pemicunya adalah interogasi terhadap mahasiswa yang berujung nyawa, yang mana tanpa dasar hukum dan berusaha ditutup-tutupi. Padahal mahasiswa tersebut "dipaksa" mengaku anggota komunis.  Jadi teringat novel Laut Bercerita saat menonton film ini. Salah satu film yang paling membekas di bulan Januari. 

Selasa, 23 Januari 2018

#UthaNonton - Januari 2018 (Bagian 1)

Pada bulan Januari ini, banyak sekali film bagus. Kadang sangsi sendiri gue bisa menonton bahkan sampai tiga film dalam satu pekan di bioskop. Ini ulasan singkat film-film yang gue tonton.


1. Insidious Chapter IV: The Last Key
Skor: 5/10

Karena mengikuti film-film sebelumnya, tentu ngebuat gue kepingin menonton film ini secara langsung saat rilis. Bahkan bukan cuma gue yang antusias karena nyaris satu studio penuh! Sayangnya, rasa antuasiasme yang gue miliki (atau mungkin juga yang lain) harus berbalik menyerang karena filmnya benar-benar datar. Gue sama sekali nggak merasakan nuansa mencekam di film ini. Meski memang menyukai seri Insidious yang dibumbui kisah keluarga, kali ini ramuan mereka nggak mempan karena terlalu mementingkan cerita keluarga yang mana juga terasa tanggung. 


Selasa, 02 Januari 2018

6 Tipe Penonton Paling Mengganggu di Bioskop

Selama setahun terakhir, gue jadi lebih suka menonton di bioskop. Tentu karena memang lebih menikmati sajian visual dalam layar lebar dan audio yang lebih cadas. Namun, pasti kalian pernah mengalami kejadian saat ingin menonton dengan tenang, tapi tiba-tiba ada yang mengganggu, kan? Gue sendiri sering mengalaminya. Biasanya, gue menegur kalau benar-benar sudah mengganggu kenyamanan gue dalam menonton. 

Sumber: jaidenphotography


I. Penonton Bercerita atau Mengobrol di Bioskop
Menurut gue, hal paling norak dan kampungan yang dilakukan di bioskop adalah bercerita atau bertanya tentang plot. Penonton tipe ini terdiri atas tiga jenis: pasangan, segerombol teman, dan penonton yang sudah menonton. Tipe pertama, kita bahas pasangan. Biasanya, gue paling sebal dengan orang yang berpacaran di bioskop. Kebanyakan (memang nggak semua) mereka akan mengobol mengenai film yang ditonton, seolah mereka menyewa satu studio penuh. Biasanya si cowok yang merasa paling tahu tentang film, seolah kritikus andal yang paham akan produksi film tersebut, bahkan nggak jarang secara proaktif bercerita pada si cewek tanpa diminta. 

Resolusi Tahun 2018

Tahun 2017 benar-benar menjadi tahun yang paling tak terduga dan menyenangkan. Siapa sangka aku bisa ke sana kemari, bahkan bisa pergi ke Semarang, Bandung, Bali, Kuala Lumpur, Singapura, Tokyo, Osaka, Kyoto, Karuizawa, Hamburg, Nurenberg, dan Frankfurt? Aku bukan penerima beasiswa S2 seperti teman-teman kebanyakan dan bisa keliling Eropa. Siapa sangka aku mendapatkan tawaran dari merek kelas dunia dalam ajang lomba lari untuk komunitasku? Benar-benar tahun yang menyenangkan, dan tepat saat aku berumur 25 tahun.

Dan, aku amat sangat bersyukur akan semua itu.

Lantas, sekarang sudah tahun 2018. Ada beberapa hal yang ingin sekali aku lakukan di tahun ini agar menjadi lebih baik. Semoga semua kesampaian.