15.5.18

Visa Australia Ditolak Padahal Berkas Lengkap: Apa yang Salah?

Beberapa bulan lalu, gue ikut travel fair Singapore Airlines. Tujuan gue kali ini adalah Australia. Kenapa Australia? Pertama, gue belum pernah ke benua itu. Kedua, kalau ke luar negeri, selalu kedapetan summer! Bahkan spring aja baru ngerasain sekali pas ke Jepang. Jadi, gue memutuskan untuk bisa holiday trip tapi dengan musim berbeda. Jadi, kayaknya Australia jadi benua yang pas buat gue buat cobain ke luar negeri pas autumn.

Setelah dapet tiket dengan harga yang cukup oke untuk maskapai sekelas SQ, tentu aja gue menabung, buat itinerary, dan lain sebagainya. Sampai satu bulan sebelum keberangkatan, gue harus buat visa Australia. Omong-omong, gue ke Australia bareng temen traveling ke Jepang kemarin. Alasannya, kami satu visi. Banyak orang yang suka traveling tapi visi mereka jalan-jalan itu berbeda. Nah, gue sama temen gue ini cukup cocok meski dia lebih ambisius. Tapi udah terjaminlah waktu traveling ke Jepang selama empat belas hari kalau dia cukup satu visi sama gue.


Sumber: curiositiescabi.net


Nah, sebelum apply visa, tentu aja kami cari-cari informasi. Baik dari blog, maupun temen-temen yang pernah ke Australia. Kebetulan banget juga, beberapa bulan lalu ada informasi bahwa apply visa Aussie ini bisa lewat online. Tapi, belum ada keterangan lebih lanjut yang cukup detail tentang orang Indonesia (maafkan karena kami orangnya amat sangat insecure) sampai akhir bulan Maret. Maka, kami pun memilih opsi untuk apply visa lewat VFS Australia yang terletak di Kuningan City. Tapi sebelum ke sana, salah satu teman yang baru balik liburan dari Australia bilang, "Lho, kenapa nggak lewat online aja, Tha? Temen gue kemarin submit online terus dua hari udah dapet lho." Karena udah mepet dan rasanya mager untuk menge-scan banyak dokumen, kami tetap lewat jalur walk-in alias tetap ke Kuningan City.

Kami pun mulai mengumpulkan berkas. Nah, untuk detailnya bisa dibaca di Backpack Story karena kami amat sangat terbantu dengan penjabaran detail di blog tersebut. Setelah merasa berkas lengkap, kami pun datang sesuai appointment. Omong-omong, kalau appointment-nya 15.00, pastikan ke sana pukul 14.55 karena petugas di sana menyuruh kami balik dan datang benar-benar lima menit sebelum janji temu. Aduduh gedubrak banget memang, tapi memang SOP mereka demikian.

Setelah diperbolehkan masuk, kami masuk ke bagian visa Australia. Ternyata di sana sepi banget, jadi kami langsung lampirin berkas ke petugas masing-masing. Karena udah lihat tutorial cara pengisian di berbagai blog, nggak ada hambatan sama sekali. Petugas cuma mengecek ada yang gue skip atau nggak untuk isi formulirnya. Ternyata gue lupa ceklis satu doang, dan akhirnya langsung diisi. Selain itu, gue juga lupa tulis nama dan tanda tangan di bagian paspor belakang, jadi harus fotokopi ulang deh di tempat. Setelah semua berkas di-submit, kami pun dapet nomor antrean untuk bayar pengajuan visa. Lumayan banget kenanya, sekitar Rp1.700.000,00 (dua ratus ribunya kalau nggak salah termasuk biaya service untuk pengiriman berkas dan sebagainya).

Dan... sudah lima hari jam kerja berlalu. Gue kira bakalan lebih lama lagi dapet pengumannya. Tapi temen gue nge-WhatsApp. Isinya kurang lebih begini: "Visa gue ditolak."

Maka, gue yang pagi itu lagi sibuk ngedit kerjaan, langsung cek hape, lihat notifikasi e-mail. Dan alhamdulillah visa gue malah diterima. Padahal, gue lebih insecure, lebih takut ditolak visanya. Tapi saat itu gue juga bingung sih, di satu sisi seneng karena visa diterima, tapi di sisi lain sedih juga karena visa temen gue ditolak.

Alasan visa Australia-nya ditolak dijabarin begini di e-mail temen gue:

No further assessment of this visa application can be taken at this office.
However, if the details of a parent, spouse, de facto partner, child,
brother or sister you intended to visit were included in your visa
application form, and the relative is an Australian Citizen or Australian
permanent resident, that person is entitled to apply for a review of this
decision to the Administrative Appeals Tribunal (AAT). An application for
review of this decision must be given to the AAT within 70 calendar days
after you are taken to have received this letter.

Bisa paham sendiri kan kenapa pihak sana rejected visa temen gue. Kalau dibaca dengan saksama sih mereka "kurang" percaya. Akhirnya setelah wara-wiri tanya sana-sini, temen gue memutuskan untuk apply visa lewat internet. Sebenernya deg-degan juga karena udah mepet waktu sama tiket keberangkatan ke sana.

Setelah semua berkas di-scan, bahkan temen gue sampai menyertakan surat rumahnya segala dan mencontoh surat keterangan kerja dari gue yang kelihatan lebih detail, temen gue apply. Apply-nya pun nggak terlalu ribet dan kena biaya lebih murah, yaitu sekitar Rp1.500.000,00.

Udah seminggu berlalu, tapi belum dapet respons dari pihak Kedubes Australia. Akhirnya... temen gue ditelepon sama pihak sana! Dan nggak lama, tadaaah... dia dapet e-mail kalau visanya diterima. Jalan-jalan ke Sydney dan Melbourne-nya jadi deh.

Inti dari penolakan dari pihak sana sih bisa gue simpulkan:

  1. Semua harus jelas dan terstukrtur, termasuk surat keterangan kerja. Dalam satu surat, boleh deh jelasin kapan lo diangkat jadi karyawan, alasan lo berangkat, dan sebagainya. 
  2. Saat ditelepon sama pihak Kedubes Australia, mereka bilang udah menelepon kantor temen gue dan nggak diangkat. Ini bisa aja membuat adanya asumsi kantor bodong. Jadi make sure nomor telepon kantornya yang aktif angkat. Gue sih waktu itu kasih nomor telepon bos gue, jadi kalau mau diwawancarain memang lebih enak.
  3. Kalau ada yang bilang harus punya tabungan cukup, ini bener banget. Tapi juga jangan ngebohong karena ketahuan ya. Secukupnya aja dan sesuai dengan itinerary juga udah oke kok.
  4. Kalau punya paspor lama dengan visa Amerika Serikat atau visa Schengen, fotokopi aja. Temen gue dibilang masih kurang traveling-nya padahal udah ke sana kemari, tapi mungkin belum pernah ke Eropa. Giliran gue yang bisa dihitung jari, dengan label visa Schengen, diloloskan. Ya jaga-jaga aja.
  5. Kalau ditolak visanya, buat surat pernyataan dengan jelas dan detail. Pasti ada jalan.
  6. Kalau kalian pergi dinas sih lebih enak, karena pasti punya "surat sakti" tersebut. 
  7. Lebih memudahkan lagi kalau kalian punya kenalan di Australia dan dibuatin invitation letter untuk menjamin.

Dan saran gue, lebih baik apply visa online aja karena lebih mudah. Tapi kalau ngerasa lebih enak ngajuin lewat VFS pun nggak ada salahnya juga.

Cheers!


2 comments:

  1. Selamat sore kak, terimakasih untuk ceritanya sangat membantu sekali.

    Saya Zahra dari Bali. Bulan Juni kemarin sempat apply visa turis ke Australia, tapi ditolak dengan alasan diragukan kalau saya tidak akan kembali ke Indonesia lagi :( Padahal dokumen sudah lengkap selengkap-lengkapnya :(

    Kak kalau boleh tau, seperti apa surat keterangan kerja kakak yg detail kmrn? Apa boleh saya minta tolong untuk di emailkan formatnya? Mohon maaf sebelumnya, saya soalnya mau apply kembali dalam wkt dekat ini dan berupaya memperbaiki dokumen2 sebelumnya yg saya kira kurang.

    Terimakasih banyak kak. Godbless you😊

    Email saya zahrabastari@gmail.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Kak Zahra. Sebenarnya surat keterangan kerja sama aja kayak yang ada di internet. Langsung kasih kontak atasan aja sih ketimbang kasih nomor kantor (karena bisa aja ada yang nggak angkat pas pihak sana nelepon).

      Gluck!

      Delete