Under the Milky Way - 1

“LO baik-baik aja?”

Suara itu terdengar samar, bahkan Ines menyangka kalau dia berhalusinasi. Saat libur begini, jarang ada mahasiswa yang masih datang ke kampus. Paling-paling mahasiswa yang aktif berorganisasi, atau seperti dia yang sedang konsultasi skripsi dengan dosen pembimbing.

Belum sempat berpikir dan menjawab pertanyaan orang asing itu, rasa mual sudah menggelegak, tidak bisa Ines tahan lagi. Dengan terhuyung dia berusaha maju ke dekat selokan, satu-satunya tempat yang tepat untuknya memuntahkan cairan lambung. Aroma tanah dan bau pesing langsung terendus, membuatnya makin mual.

“Lo beneran nggak kenapa-napa, kan?” tanya sosok itu lagi.


Sumber: Unsplash


“Gue baik-baik aja,” tukas Ines cepat, tidak sempat melihat wajah sosok itu, lalu berusaha bangkit dari duduk. Sayangnya, belum sempat dia berdiri, asam lambungnya naik dan rasa mual itu menjalar begitu cepat sehingga dia muntah.

Tiba-tiba laki-laki yang bertanya itu menyentuh tengkuk Ines, kemudian memijitnya sehingga rasa mual mendera Ines lebih hebat lagi. Saat laki-laki itu mendekat dan nyaris tidak berjarak dengannya, Ines bisa mengendus bau minyak kayu putih. 

Pijatan di tengkuk itu membuat Ines memuntahkan apa yang tadi siang dia makan. Sosok itu terus memijat tengkuk Ines, tidak peduli dengan bau menyengat yang menguar.

“Trims,” ucap Ines sambil mengangkat tangan kanannya, berusaha menepis pijatan laki-laki itu, lalu mendongak dan melihat sosok tersebut.

Ternyata laki-laki itu sepantaran dengannya.

Yang mungkin juga mahasiswa di kampus ini.

Satu angkatan? Atau senior?

Ines yakin tidak pernah mengenal laki-laki itu. Selama kuliah, dia belum pernah melihat wajah seperti yang dilihatnya sekarang: laki-laki dengan model rambut undercut, mata belok, hidung mancung, dan bibir yang tipis. Penampilannya tampak kasual dengan kaus polo dan celana jins yang dipadukan dengan sepatu lari. Ines bisa menduga laki-laki itu merupakan mahasiswa dari fakultas lain, bukan dari Fakultas Ekonomi seperti dirinya. 
 
Laki-laki itu merespons ucapan terima kasih Ines dengan seulas senyum, lalu menyerahkan sebotol air mineral yang masih tersegel sambil bertanya, “Mau gue anter ke Pusat Kesehatan Mahasiswa?”

Ines meraih botol mineral itu dan menggeleng. “Nama gue Ines.”

Laki-laki itu mengernyit, bingung karena Ines tidak menjawab pertanyaannya, malah memperkenalkan diri. “Oh... ya, gue Musa.”

“Trims buat air mineralnya, tapi gue nggak perlu diantar ke PKM. Sedikit lagi temen gue bakal jemput kok.”

Musa mendelik, sangsi kalau perempuan di hadapannya bakal baik-baik saja. “Mau gue temenin nunggu temen lo jemput?”

“Nggak perlu. I’m totally fine. Cuma... yah, masuk angin plus mag karena telat makan,” tolak Ines halus. 

Musa masih kelihatan ragu. Sore begini suasana kampus tampak begitu sepi, apalagi di pedestrian. Biasanya masih ada beberapa tempat penyewaan sepeda kuning yang masih buka, tapi sekarang tutup lantaran hari libur. Dan tentu saja bus kuning juga tidak beroperasi. Lantas, dia membiarkan perempuan yang memiliki kulit sepucat mayat itu sendirian? Yang benar saja. Apalagi langit tampak gelap dan angin berembus cukup kencang, menandakan hujan akan turun. 

“Gue nggak selemah yang lo pikirin, jadi lo nggak usah khawatir. Temen gue lima menit lagi bakal dateng. Lo boleh pergi, Musa,” ujar Ines, seolah bisa membaca pikiran Musa alih-alih menahan rasa asam di mulutnya. Dia menatap langit, lalu manyadari alasan laki-laki di depannya ini merasa cemas. “Ah, mau hujan ya. Tapi tenang aja, temen gue bawa mobil kok. Aman.”

Meski masih ragu, akhirnya Musa bergerak mundur, lalu kembali ke motor yang telah diparkir di depan halte bus Fakultas Ekonomi. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya laki-laki itu menghilang dari hadapan Ines, membuat perempuan itu mendesah lega. 

Saat Musa mengendarai motor, sampai akhirnya hilang dari pandangannya, Ines terus memperhatikan.

Sekelumit perasaan yang tidak bisa dia definisikan menggelitik benaknya. 

Benar-benar aneh. 

Ines yakin dia baru pertama kali bertemu dengan Musa. Namun, wajah dan postur laki-laki itu mengingatkannya pada akhir musim semi di Jepang: memberikan sensasi hangat yang adiktif, sekaligus cantik seperti bunga sakura yang luruh ditiup angin. 

Ines pun tersekat saat ponsel di saku celananya bergetar, menyadarkan dirinya bahwa sedang menunggu seseorang. 

“Sori, Pasar Minggu macet banget. Lo masih di halte depan FE?”

“Iya, masih nungguin lo nih. Masih lama nggak sampai di sini?” Ines menatap air mineral yang Musa berikan padanya, lalu mengingat-ingat wajah laki-laki itu. Sungguh ajaib ada yang membawa-bawa air mineral dalam kemasan yang masih disegel begitu.

“Kira-kira lima menit lagi gue sampe. Wait.”

“Oke.”

Sambungan terputus. 

Ines masih tepekur. 

Dia masih penasaran dengan laki-laki yang baru dia temui itu.

Kenapa sosok Musa terasa familier? Kalau Ines memang mengenalnya, kenapa tidak ada satu pun memori tentang laki-laki itu di benaknya?

Ines tidak paham. Namun, yang jelas dia punya hasrat yang meluap, pertanda bahwa dia ingin bertemu lagi dengan Musa. Probabilitas tersebut memang begitu kecil, tapi selama Ines hidup dia sadar takkan ada yang tahu bagaimana takdir bekerja.

Post a Comment

0 Comments