Rabu, 16 Mei 2018

#UthaNonton - April 2018

Bulan ini bulan paling sedikit frekuensi nontonnya. Iya, cuma tiga kali nonton! Tapi... bulan ini gue mencoba pengalaman nonton di IMAX Melbourne yang sejauh ini jadi the largest IMAX in the world.

18. A Quite Place
Skor: 8/10

Nonton ini seru dan cukup menegangkan. Gue suka premis simpel yang dieksekusi dengan baik. Salah satu film bagus pada tahun ini. Tapi entah kenapa kurang sreg sama ending-nya! Huaaa...

Selasa, 15 Mei 2018

Visa Australia Ditolak Padahal Berkas Lengkap: Apa yang Salah?

Beberapa bulan lalu, gue ikut travel fair Singapore Airlines. Tujuan gue kali ini adalah Australia. Kenapa Australia? Pertama, gue belum pernah ke benua itu. Kedua, kalau ke luar negeri, selalu kedapetan summer! Bahkan spring aja baru ngerasain sekali pas ke Jepang. Jadi, gue memutuskan untuk bisa holiday trip tapi dengan musim berbeda. Jadi, kayaknya Australia jadi benua yang pas buat gue buat cobain ke luar negeri pas autumn.

Setelah dapet tiket dengan harga yang cukup oke untuk maskapai sekelas SQ, tentu aja gue menabung, buat itinerary, dan lain sebagainya. Sampai satu bulan sebelum keberangkatan, gue harus buat visa Australia. Omong-omong, gue ke Australia bareng temen traveling ke Jepang kemarin. Alasannya, kami satu visi. Banyak orang yang suka traveling tapi visi mereka jalan-jalan itu berbeda. Nah, gue sama temen gue ini cukup cocok meski dia lebih ambisius. Tapi udah terjaminlah waktu traveling ke Jepang selama empat belas hari kalau dia cukup satu visi sama gue.


Sumber: curiositiescabi.net


Nah, sebelum apply visa, tentu aja kami cari-cari informasi. Baik dari blog, maupun temen-temen yang pernah ke Australia. Kebetulan banget juga, beberapa bulan lalu ada informasi bahwa apply visa Aussie ini bisa lewat online. Tapi, belum ada keterangan lebih lanjut yang cukup detail tentang orang Indonesia (maafkan karena kami orangnya amat sangat insecure) sampai akhir bulan Maret. Maka, kami pun memilih opsi untuk apply visa lewat VFS Australia yang terletak di Kuningan City. Tapi sebelum ke sana, salah satu teman yang baru balik liburan dari Australia bilang, "Lho, kenapa nggak lewat online aja, Tha? Temen gue kemarin submit online terus dua hari udah dapet lho." Karena udah mepet dan rasanya mager untuk menge-scan banyak dokumen, kami tetap lewat jalur walk-in alias tetap ke Kuningan City.

Senin, 09 April 2018

#UthaNonton - Maret 2018

Bulan Maret, gue nggak terlalu banyak nonton film di bioskop. Tapi... ternyata pada bulan ini gue menemukan tontonan paling seru sejak awal tahun!

14. Call Me by Your Name
Skor: 7/10

Penasaran sama film ini karena dapet penghargaan (meski nggak nonton filmnya). Lanskap ceritanya sih tipikal film festival dengan latar Italia. Tentang kisah Elio dan Oliver. Jadi pas summer si Oliver ini diundang sama ayahnya Elio yang profesor untuk proyek akademis gitu. Berbeda dengan mahasiswa kesayangan profesor lainnya, si Oliver ini membuat Elio jatuh hati. Dan mereka pun bermanis manja setelahnya. Gue pribadi nggak terlalu attach sama karakternya. Pace-nya lambat, tapi tetap bisa dinikmati. Kultur di sini luar biasa banget ya. Lo bisa ngobrol udah nggak perjaka atau perawan sama ortu lo dan itu lumrah. Dan adegan makan buah itu buat tepok jidat.

Sabtu, 07 April 2018

Menengok Naskah di Editors' Clinic Gramedia Writers & Readers Forum

Jarang-jarang gue menulis blog tentang kerjaan nih! Tapi karena memang lagi pengin ketik, ya udah deh gue nulis aja. Perlu digarisbawahi gue menulis catatan biar inget aja tadi pagi sampai siang abis ngapain. Apalah tulisan seorang Utha, editor anak bawang yang mengeditnya masih perlu ditambal-sulam (eh, bukannya penulis yang harus menambal-sulam naskahnya biar bagus, ya?).


Gue berangkat ke Perpustakaan Nasional sekitar pukul setengah sepuluh dan sampai di sana pas pukul sepuluh pagi. Karena waktu mepet sama acara gue sebelumnya, untung masih bisa denger briefing dari panitia. Gue sempet cemas juga karena ada insiden mimisan dan darah yang mengucur banyak banget. Untung bawa tisu (meski langsung habis) dan selama perjalanan di motor gue mendongak terus biar darahnya nggak mengucur.

By the way, gue deg-degan karena udah lama nggak bertatap muka sama calon-calon penulis kece. Gue memang dapet jatah untuk mengisi jadwal konsultasi naskah hari Sabtu ini dari pukul sepuluh sampai pukul dua belas. Dan gue cuma sempat mengobrol dengan enam calon penulis. Gue pun masih ingat "masalah" yang mereka alami dalam menulis. Sebenernya tulisan ini nggak mendetail banget, tapi semoga bisa paham ya apa yang gue maksud.

Calon penulis pertama ini adalah content writer. Tulisannya rapi banget, mungkin memang terbiasa menulis jadi kendala teknis sama sekali nggak ada. Ceritanya tentang romansa-fantasi. Berhubung si calon penulis ini doyan banget dorama, saat baca sinopsisnya, kental banget khas dorama Jepang. Sempat mengobrol juga dia sempat beberapa kali ikut semacam konsultasi naskah dengan editor. Wah... memang niat jadi penulis! Gue jadi seneng karena masih banyak yang pengin jadi penulis dan seniat itu sampai berkali-kali datang ke acara serupa. Tapi, gue sama sekali nggak bisa merasakan feel dari latar Jepang itu. Gue kayak baca naskah yang diketik rapi tanpa nyawa dari karakter ataupun atmosfer yang pengin calon penulis sampaikan.