Selasa, 13 Juni 2017

Saat-Saat Jauh

Sebelum boarding dan mengubah ponsel ke mode penerbangan, aku sempat mengecek linimasa Twitter. Kau menuliskan tiga kata yang tak pernah kusangka padahal baru tiga jam kita berpisah dan tak sampai satu menit kita bercakap-cakap lewat telepon. 

Tiga kata itu menyentil benakku. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah kau benar-benar merindukanku seperti itu. Penerbangan dua belas jam dari Singapura menuju Frankfurt yang seharusnya sangat kutunggu-tunggu mendadak membuat perasaanku kebas.

Dengan benak yang kusut aku duduk di dalam pesawat. Kemudian tanpa terasa aku sudah makan malam dan melewati dua jam pertama akan penerbanganku. Lalu aku menyadari bahwa aku juga merindukanmu. Bahkan saat penerbangan dari Jakarta menuju Singapura aku sudah merindukanmu. Lebih tepatnya lagi, aku sudah merindukanmu saat kau menemaniku pergi ke bandara sore itu.

Selasa, 30 Mei 2017

Percakapan Menjelang Siang

"Dari semua kejadian ini, apa kau menyesal bertemu denganku?"

"Untuk apa menyesal?"

"Karena mungkin nantinya semua akan menjadi rumit karena kau harus bersamaku."

"Sama sekali tidak. Lantas, apa kau menyesal?"

"Tidak. Aku pun tidak menyesal karena semua kerumitan yang berakar pada ketakutan-ketakutanku, nantinya akan kujalani bersamamu. Bagaimana denganmu?"

"Sama sepertimu. Aku tak pernah menyesal bertemu denganmu."

"Tapi aku hanya akan membuatmu dalam posisi sulit. Andai kau bisa kembali pada saat pertemuan kita saat itu, apakah kau akan melakukan hal sama? Apa kau akan berusaha mengubahnya?"

Selasa, 09 Mei 2017

Malam Sunyi dan Pikiran Berisik

Malam ini terlalu sunyi, bahkan bunyi hujan yang kubenci tak terdengar. Namun, isi kepalaku terlalu berisik. Aku pun berusaha mengenyahkan pikiran berisik itu dengan mengambil deretan buku fiksi di rak buku. Aku mengambil buku fiksi paling menarik, tapi nyatanya yang berkelindan di benakku tetap pikiran itu.

Aku yang terbiasa dengan arti sebuah aksara, tak mampu menafsirkan perasaan gelisah yang menggelayut sejak lama. Aku memikirkan banyak probabilitas yang nantinya akan terjadi. Kata "pergi" selalu menggodaku, bahkan mencibir keputusanku untuk tetap bertahan. Sialnya lagi, aku hanya bergeming dengan cemoohan itu.

Lantas, karena malam ini terlalu sunyi, benakku menjadi makin berisik. Karena memang, malam sunyi selalu membuat pikiranmu kerap berisik dan gaduh, kan?

Pergi.

Minggu, 07 Mei 2017

Sakura

Aku berjalan mendahului temanku karena terlalu antusias melihat tanda-tanda ada sakura yang mekar. Dengan tangan di saku celana jins untuk menghangatkan tubuh karena angin terlalu jahat menerpa, aku mempercepat langkah. Dan, benar. Aku melihat pohon sakura yang begitu banyak saat di perempatan jalan. Sayangnya, aku masih belum bisa menyeberang karena lampu lalu lintas untuk pedestrian masih berwarna merah.



Dia, temanku, hanya terkekeh melihat tingkahku yang kekanakan. Dia pun mendekat sambil mengarahkan kameranya ke berbagai sudut. Tak mau kalah, aku merogoh ponsel di saku celana dan mulai menjepret apa pun. Ya, apa pun. Terus terang aku tidak paham dunia fotografi. Jadi, lebih baik kuambil foto banyak-banyak biar nanti difilter untuk kuunggah di media sosial.