11.6.18

Kota Dingin yang Memberikan Rasa Hangat Itu Bernama London

Sumber: myvintagemap.com


LONDON, wilayah metropolitan terbesar di Britania Raya, memiliki arsitektur bangunan klasik dan masyarakat multikultural. Hal itu membuat ibu kota negara Inggris ini memiliki magnet tersendiri bagi para pelancong.

Untuk pergi ke London, butuh banyak persiapan matang. Entah harus memesan tiket pesawat yang tidak bisa dibilang murah, memenuhi syarat administrasi pembuatan visa, serta macam-macam biaya yang harus dikeluarkan saat di sana. Meski terkenal dengan living cost tinggi, para turis mancanegara—termasuk turis Indonesia—tertantang menaklukkan kota tersebut dengan budget minimalis dengan berbagai objek wisata gratis.

Bandara Heathrow menjadi tempat pertama kebanyakan turis yang pergi ke London. Kita akan disambut dengan suhu sejuk yang bisa membuat menggigil saat keluar ruangan, membuat kota ini terkesan dingin. Namun, justru itu yang membuat para pelancong penasaran untuk menyapa kota ini secara langsung.



Bepergian menggunakan kereta listrik bawah tanah yang disebut tube bisa menjadi awal pengenalan akan kota ini. Di stasiun, kita akan bertemu para penumpang modis yang mengenakan parka dan jaket tebal. Mereka berjalan tergesa dengan tatapan kosong nan dingin. Dari stasiun ke stasiun lainnya, kita—yang hidup di negara berkembang—mungkin mendapat persepsi baru betapa suatu kota bisa begitu terlihat ideal: pusat musik, pusat fashion, dan juga pusat budaya.

Keangkuhan yang Artistik
Menjejakkan kaki di London merupakan sebuah garansi menikmati bangunan bergaya klasik berbalut gedung modern pencakar langit. Efeknya? Tak ada yang bisa menolak pesona magis panorama tersebut.

Ada banyak objek wisata gratis di kota ini. Meski transportasi di London cukup lengkap, kita bisa pergi ke tempat-tempat itu dengan naik sepeda. Setelah itu, silakan pilih destinasi sesuai selera. Kalau suka museum, kita bisa mengunjungi Bank of England Museum, Sir John Soane’s Museum, Natural History Museum, dan National Maritime Museum. Jika suka taman, kita dapat pergi ke Holland Park, St. James Park, atau Kensington Gardens. Bila suka panorama menakjubkan, kita bisa menjajaki Greenwich Park, Parliament Hill, atau Regent’s Park.

Kalaupun mencari hiburan bersama keluarga, tinggal pergi ke Mudchute, V&A Museum of Childhood, atau The Harry Potter Shop at Platform 9¾. Bila suka sejarah, kunjungilah Piccadilly Circus atau Crystal Palace Park. Jikalau penyuka seni, ada National Portrait Gallery dan British Library. Dan tak lengkap pergi ke tempat di mana musik mengalun seperti Southbank Centre, St. James’s Church, atau Kings Palace.

Tempat-tempat itu bukan hanya bebas biaya masuk, tapi juga bisa menjadi tempat untuk menimbun foto yang nantinya bisa diunggah di Instragram karena pasti akan sangat memorable. Selain itu, kita juga bisa pergi ke Buckingham Palace. Di sini kita bisa menyaksikan sesi Changing of the Guard—prosesi pergantian penjaga istana. Jangan lupa ke Queen’s Gallery yang terletak sisi barat gedung karena akan banyak koleksi milik kerajaan Inggris yang bisa dilihat.

Naiklah London Eye. Saat naik tempat ikonik ini, pandangan kita akan dimanjakan dengan cityscape yang menampilkan panorama Big Ben beserta bangunan tinggi lainnya beserta Sungai Thames. Jika penggila taman hiburan, Warner Bros. Studio Tour menjanjikan pengalaman yang menyenangkan. Kita bisa melihat sejumlah set film populer, yang mana Harry Potter menjadi primadona tempat ini.

Dan tentu saja kita harus sempatkan pergi ke tempat paling ikonik di London: Tower Bridge. Selain bisa menyusuri jalan pedestrian di pinggir Sungai Thames, kita juga bisa jalan ke Potter’s Field sambil menunggu bel berbunyi keras yang menunjukkan Tower Bridge akan diangkat jembatannya agar kapal bisa lewat. Jangan lupa rekam kejadian ini bersama wisatawan lainnya untuk mengabadikan momen tersebut.

Paling unik, kita bisa ikut tur berjalan kaki yang menawarkan tema seru seperti tur Jack the Ripper yang mengajak kita menyusuri kawasan East End—lokasi pembunuhan berantai itu, atau bisa pilih tur Sherlock Holmes yang membuat kita melihat langsung lokasi-lokasi di novel karangan Sir Arthur Conan Doyle tersebut.

Selama berjalan-jalan, kita akan tahu betapa kota ini sangat manusiawi. Kita tak perlu takut ada yang menyerobot antrean bus, juga tak perlu khawatir dengan tatanan kota yang semrawut karena di sini semua sangat terstruktur. Padu padan antara bangunan berarsitektur klasik juga modern berkesinambungan begitu apik, tanpa terlihat kontras di London.

London adalah panorama indah, budaya yang menakjubkan, sekaligus destinasi impian. Dengan begitu, bukankah kota ini bisa dijuluki sebagai keangkuhan yang begitu artistik?

Denyut Kota yang Memiliki Masyarakat Multikultural
Atmosfer khas Britania Raya mungkin akan terasa saat melihat pertunjukan musik jalanan di sepanjang jalan menuju Covent Garden, London Eye, atau Trafalgare Square. Kota kelahiran The Beatles ini memiliki banyak musisi jalanan yang mempertontonkan kemahirannya bermain alat musik seperti gitar, bas, drum, saksofon, bahkan alat musik yang dirakit sendiri. Bukan hanya musisi, artis jalanan seperti pelukis dan seniman gelembung pun kerap unjung gigi.

Pertunjukan ini tetap berdampingan harmonis dengan para pedestrian yang berlalu-lalang melewati mereka tanpa sedikit pun memedulikan pertunjukan itu karena pemerintah menyediakan tempat khusus untuk para artis jalanan.

Kalau ingin merasakan alternatif budaya di London, cobalah melakukan tradisi minum teh. Afternoon tea yang terdiri atas sandwich, scone dengan krim, serta cake dan kue kering bisa dinikmati di berbagai hotel seperti The Ritz London, The Dorchester, Claridge’s, dan The Barkeley.

Kita juga bisa pergi ke gastropub—pub yang menyediakan makanan ringan dengan konsep seperti fine dining—untuk mengetahui kehidupan malam di London. Kita bisa merasakan betapa banyak muda-mudi yang menghabiskan waktu di sana sepanjang musim panas. Jangan harap gastropub akan terus buka 24 jam selama musim lain karena mereka lebih suka melakukan pesta di rumah dan mengundang teman.

Setelah menikmati berbagai objek wisata, saatnya naik tube lagi. Mungkin kita akan tepekur sesaat—menampilkan wajah lelah tapi puas—di stasiun. Herannya, kita akan mendapati respons hangat para penduduk yang menanyakan apa kita baik-baik saja. Bahkan polisi yang bertugas tampak proaktif bertanya karena cemas. Alih-alih angkuh, justru kita akan mendapatkan sensasi hangat di sini. Kehangatan itu terasa tulus, tanpa tendensi. Mungkin kesan angkuh hanya sekadar topeng akan ketergesaan mereka pada jam sibuk.

Lalu tibalah di pengujung waktu menjejakkan kaki lagi di Bandara Heathrow untuk bertolak ke tempat asal. Butuh waktu berhari-hari untuk mengenal London lebih dekat, juga butuh ratusan halaman untuk menjelaskan betapa London memiliki berbagai tempat yang bisa dieksplorasi. Kota ini takkan pernah selesai membius para wisatawan.

London bukan sekadar objek wisata bersuhu dingin, dia adalah entitas yang memberikanmu rasa hangat. Suatu saat, kalau takdir berkehendak, kita pasti akan ke sana.

No comments:

Post a Comment