Rabu, 14 Desember 2016

Letupan Keinginan

Aku menginginkan pelukan-pelukan perih
yang mungkin sering kita khayalkan 
saat waktu begitu kejam 
merebakkan bau-bau kerinduan
yang berusaha kita sangkal kuat-kuat

Aku menginginkan ciuman-ciuman sedih
yang mungkin jadi imaji terliar
saat menyadari bahwa takdir 
terlalu kejam mengekang dentuman
yang selalu kita redam dalam-dalam

Jumat, 02 Desember 2016

Frekuensi

Aku menatapnya masuk ke rumah sambil tersenyum. Saat aku mendengar bunyi pintu berdentum, aku berbalik dan mulai melangkah menuju rumahku. 

Baru saja bersamanya seharian ini, kerinduan menerkamku. Aku berjalan lambat-lambat, entah kenapa enggan pulang cepat-cepat karena perasaan aneh itu. Kurapatkan jaket karena udara begitu dingin sehabis hujan. 

Kenapa ribang itu hadir padahal baru saja aku bertemu dengannya?

Bahkan, bisa kukatakan aku kerap bertemu dengannya. Tiap hari dalam seminggu, aku berjumpa dengannya. Namun, seringnya frekuensiku justru membuatku takut. 

Harus kauketahui bahwa aku tidak bercanda saat berkata dia adalah cinta yang selalu kuhindari. Karena seperti inilah jadinya: kerinduan yang begitu asing padanya terasa aneh. 

Rabu, 30 November 2016

Telanjur Basah

Pernah suatu saat aku berbicang dengan dua teman yang dulu dekat saat berorganisasi di kampus. Pembicaraan kami bisa dibilang tak tentu arah, seringnya melantur. Namun, kami paling sering membicarakan mengenai perihal jatuh cinta.

"Buatku cinta itu kayak kolam besar berisi air," saat itu Miranda mengatakannya dengan pandangan menerawang, setelah Bekti bercerita mengenai hatinya yang terus-terusan biru.

"Kolam berisi air?" Bekti mengernyit heran. 

Miranda berdeham. "Iya. Kamu harus berani tenggelam untuknya. Dan begitulah kamu sekarang. Kamu sudah tercebur. Bagaimanapun caramu berusaha untuk tidak tenggelam, kamu sudah basah. Bukankah sulit untuk mengeringkannya?"

Aku menyimak pembicaraan mereka dengan hati gamang. 

Jatuh cinta?

Kupikir aku belum memiliki keberanian untuk tercebur jika meminjam istilah Miranda. Aku hanya berani melongok, melihat dari permukaan. Aku sama sekali belum memiliki keinginan untuk merasakan basahnya kolam itu.

Selasa, 29 November 2016

Lagu dan Melankolia

Aku tenggelam dalam lagu yang kudengar lewat earphone ponsel, mengantarkanku pada hal indah nan kejam bernama melankolia. Kenapa bisa ada lagu yang terasa begitu nyata, seolah menceritakan kehidupanmu secara utuh tanpa celah? Bukankah itu berarti ada orang lain yang juga pernah berada di posisiku seperti sekarang? Maksudku, pencipta lagu itu. Bukankah itu artinya dia pernah merasakan hal serupa denganku, bahkan sebelumku? Atau teman dari pencipta lagu itu yang pernah berada di posisiku, yang mana ceritanya lah yang dituangkan dalam lagu?

Aku menggeleng-geleng gusar, merasa otakku makin melantur. Kuambil gelas di nakas, lalu kuteguk air mineral cepat-cepat. 

Aneh.

Hanya karena sebuah lagu, perasaanku berkecamuk. Atau memang, sebenarnya perasaan manusia yang gampang dibolak-balikkan oleh Tuhan lewat sebuah lagu? Aku tak pernah mengerti. Hanya saja, satu yang pasti perasaan manusia itu kompleks.

Senin, 07 November 2016

Kepada Musa


Kepada
Sukma Musa Antaprawiradiredja 



Apa kabar, Mus?

Entah kenapa gue lebih suka memanggil lo Musa daripada Kinoy atau Sukma. Sukma kedengaran kayak perempuan, sementara gue tahu sebrengsek apa kelakuan lo. "Musa" juga salah satu nama favorit gue, yang mana menjadi karakter utama di salah satu cerita gue. Jadi, meski lo sering misuh-misuh kalau gue manggil lo Musa, gue bakalan tetap memanggil lo Musa.

Dulu, Friendster benar-benar media sosial yang beken. Dan obrolan pertama kita itu di sana. Karena gue pasang profil tentang Harry Potter, lo nge-add gue. Dari situ, kita berteman dan ternyata lo salah satu teman brengsek paling asyik diajak bercerita.

Kepergian lo membuat gue yakin bahwa kehidupan itu memang lucu.

Umur lo masih muda, cuma beda dua tahun sama gue. Namun, lo udah mendapat gelar bachelor dengan jurusan Biomedicine. Jurusan yang sama sekali nggak familier karena gue sendiri anak IPS dan kata "biomedicine" benar-benar asing di telinga gue. Yang gue tahu pada akhirnya adalah jurusan itu nggak ada di Indonesia—bahkan sampai saat ini.

Senin, 31 Oktober 2016

Rabu, 26 Oktober 2016

Gadis yang Menunggu



Gadis itu sudah duduk berjam-jam lamanya.
Pandangan lurus ke luar jendela,
dengan wajah sendu.

Tak letih dia menunggu,
meski bokongnya sudah panas
dan perutnya sudah kembung
dengan bergelas-gelas es lemon.


Kamis, 06 Oktober 2016

Teruntuk Dy

Apa kabar, Dy?

Mungkin ini bukan pertama kalinya aku menulis surat, mengkristalkan pikiranku lewat aksara, bukannya menemuimu dan berdeklarasi langsung. Semoga kau tahu, aku tidak pandai memverbalkan apa yang kurasakan lewat tindakan.

Masihkah kau suka dengan candaan yang tak pernah berujung? Masihkah kau suka tertawa renyah saat merespons lelucon seseorang? Masihkah kau tampak menyebalkan saat merajuk?

Ah, bodohnya aku menanyakan hal itu kepadamu. Kebiasaan itu tidak akan berubah, bukan? Apa kau masih ingat bahwa aku kerap memergokimu sedang menatapku di kelas, lalu kau memalingkan wajahmu?

Dan saat-saat itulah yang kurindukan. Saat frekuensi pertemuan kita masih sering. Tatkala melihat senyummu adalah sesuatu yang tak langka. Waktu lampau yang begitu candu, bahkan sampai sekarang, di mana melihat bayangmu tak lagi ada.

Bahkan saat waktu berjumpa mulai susut karena kesibukan, kadang aku terus memikirkanmu, Dy. Dan mungkin beberapa waktu yang lalu adalah saat terakhir kita untuk bercerita, ya? Kau masih sama, tatapanmu pun masih sama.

Tapi aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa perasaanku sudah tidak layak.
Kata orang, I have to move on.


Jumat, 01 Juli 2016

Derit-Derit Kekeliruan

Awalnya kukira aku hanya ingin mendengarkan lenguhanmu dan melihat tetes-tetes peluh yang membanjiri tubuhmu.
Awalnya kuduga hanya titik-titik tertentu tubuhku yang bisa merona malu karena cecapan anestesimu.
Awalnya kupikir hanya kulitku yang akan terbakar oleh sentuhan kulitmu.
Ternyata selain mengadang tubuhmu dan akhirnya melebur bersama dirimu, aku ikut terbakar oleh dinginnya arimu yang selembut beledu.

Minggu, 26 Juni 2016

Dua Sosok di Dalam Bar

Dalam ingar bingar yang terdengar di panggung bar, kulihat kesepian tersenyum sumir.
Sesekali dia berusaha melumat bibir keriuhan, tapi hanya sedikit yang bisa dia cecap.
Sosoknya makin lama tenggelam oleh dentum musik, tersingkirkan oleh gelak tawa palsu.
Akhirnya dia berusaha bungkam, memilih untuk menutup diri dan mengalah. 
Takkan lagi dia menampakkan diri di hadapan keriuhan.

Keriuhan makin riang, tak ada lagi kesepian yang merecokinya.
Semangatnya memberikan gelak pun membubung tinggi.
Gelak menular yang membuat semua melupakan sosok kesepian sudah berdiri di pojok bar.

Musik masih berisik.
Tawa masih menular.
Keriuhan berpesta pora, sementara kesepian tetap bergeming.

Jumat, 27 Mei 2016

Real Humans Give Hugs

Handshakes, while advisable for first impressions and sealing business deals, are otherwise too formal for significance. Too cold. In some cases, too competitive.

Hugs are just the best though. And I’m not talking pats on the back, I mean those full-contact, two-arm, squeeze-like-you-mean-it bear…

Rabu, 25 Mei 2016

Endless Truth

Losing her wraith in Sunday morning.
I feel my withering soul bruise, just makes me sick.
Losing her sweet warmth as forever.
I feel my world’s turning break, just makes me hurt.

I want to taint the grace.
I want to collide in fury.
I want to hurt my self.


Minggu, 22 Mei 2016

Saat Malam

Saat malam menebarkan gelap yang nyalang, aku terus menggerakkan jemariku menelusuri hal maya.
Kulihat para peraih bintang menjejalkan bukti keanggunan mereka saat mengangkasa, membuatku mengerti bahwa selama ini aku hanya bergeming.
Tapi tak letih juga kupandangi para penenggak api yang terus meratap, membuatku paham bahwa aku tetap melangkah meski langkahku tak berarti.




Kamis, 12 Mei 2016

Kastel Imajiner

Bertualang sudah menjadi kompas hidupmu, dan terikat adalah hal asing bagimu.
Kau mengumpulkan pundi-pundi tawa, kemudian menjadikannya kisah hebat.
Mungkin ikrar hal tabu bagimu, dan kesenangan-kesenangan semu adalah garis finismu.

Sampai akhirnya kau tak berkutik menghadapi seseorang.
Seseorang yang dulunya sejumput cerita masa lalu yang mudah dilupakan.
Tapi kini tanpa bisa kautebak menjadi lagu ninabobo yang wajib kaudengar tiap malam.


Rabu, 27 April 2016

Memang Ada

Ada memang, orang yang membuat kita tahan mengobrolkan semua hal.
Semuanya, hingga azan subuh sekalipun.

Ada memang, orang yang kepadanya kita membuka semua rahasia.
Semuanya, hingga yang paling rahasia sekalipun.

Ada memang, orang yang kepadanya kita bercerita semua impian kita.
Semuanya, bahkan yang paling konyol sekalipun.

Ada memang, orang yang kepadanya kita bersedia menunjukkan semua kelemahan kita.
Semuanya, hingga kita tampak menyedihkan sekalipun.

Minggu, 17 April 2016

Resensi Jersey Adidas Climachill

Tadi pagi, saya melakukan aktivitas lari pagi bareng teman-teman JakBRunners seperti biasa. Tapi kali ini cukup berbeda karena komunitas kami mencoba produk Climachill Adidas terbaru. Selain JakBRunners, juga ada Running Rage, Rock Run Fun, dan Galaxy Running Club yang turut mencoba produk ini. JakBRunners pun berlari santai bareng Running Rage dengan jarak lima kilometer (kalau di sportwatch sih 5.65 kilometer)!

JakBRunners X Running Rage


Karena cuaca Jakarta yang belakangan terik, saya pikir cocok untuk mengetes apakah jersey ini benar-benar bisa memberikan efek instant cooling yang menjadi andalan apparel Climachill ini.