Minggu, 26 Juni 2016

Dua Sosok di Dalam Bar

Dalam ingar bingar yang terdengar di panggung bar, kulihat kesepian tersenyum sumir.
Sesekali dia berusaha melumat bibir keriuhan, tapi hanya sedikit yang bisa dia cecap.
Sosoknya makin lama tenggelam oleh dentum musik, tersingkirkan oleh gelak tawa palsu.
Akhirnya dia berusaha bungkam, memilih untuk menutup diri dan mengalah. 
Takkan lagi dia menampakkan diri di hadapan keriuhan.

Keriuhan makin riang, tak ada lagi kesepian yang merecokinya.
Semangatnya memberikan gelak pun membubung tinggi.
Gelak menular yang membuat semua melupakan sosok kesepian sudah berdiri di pojok bar.

Musik masih berisik.
Tawa masih menular.
Keriuhan berpesta pora, sementara kesepian tetap bergeming.
Tahukah kesepian akan satu hal?
Sejatinya semua hal itu akan luluh lantak.
Kenyataannya semua itu hanya temporer.
Semua akan kembali padanya, bercinta lagi dengannya.

Kesepian hanya tak tahu bahwa keriuhan hanya meminjam sedikit waktu darinya.
Ketika saat-saat itu usai, keriuhan akan ditinggalkan dan sebatas imaji yang sulit diingat.
Semuanya akan berpulang pada kesepian.
Seperti aku yang sudah dilumat habis oleh bibir tipisnya.


Jakarta, 26 Juni 2016
11.59 P.M 

6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. suka banget sama kata kata "Kesepian hanya tak tahu bahwa keriuhan hanya meminjam sedikit waktu darinya" tambahan dikit "keriuhan takan membiarkan kesepian kembali bercinta, keriuhan akan terus mencumbu semua tempat termasuk sudut sudut kesepian,hingga taka ada tempat lagi untuk kesepian" #prokeriuhan

    BalasHapus