Minggu, 22 Mei 2016

Saat Malam

Saat malam menebarkan gelap yang nyalang, aku terus menggerakkan jemariku menelusuri hal maya.
Kulihat para peraih bintang menjejalkan bukti keanggunan mereka saat mengangkasa, membuatku mengerti bahwa selama ini aku hanya bergeming.
Tapi tak letih juga kupandangi para penenggak api yang terus meratap, membuatku paham bahwa aku tetap melangkah meski langkahku tak berarti.





Saat malam menenggelamkan suara-suara riuh, aku terus mengetuk layar kecil ajaib.
Kutonton festival tawa yang terbingkai di pigura-pigura kebohongan, membuatku ciut karena tersenyum saja tak bisa.
Namun tak bosan kulirik penyulut kebakaran yang tak henti-hentinya membakar, membuatku memejam karena memantik api saja aku tak bisa.


Kupikir semuanya bahagia.
Kupikir semuanya bukan citra.
Seharusnya aku tahu mereka hanyalah penipu.
Seharusnya aku tahu mereka sekadar maya.


Saat malam tiba, kebahagiaan-kebahagiaan yang terpintal pada wujud dua dimensi itu menipuku, tapi aku menyadari bahwa aku memang suka ditipu.



Jakarta, 22 Mei 2016
18.30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar