Minggu, 07 Mei 2017

Sakura

Aku berjalan mendahului temanku karena terlalu antusias melihat tanda-tanda ada sakura yang mekar. Dengan tangan di saku celana jins untuk menghangatkan tubuh karena angin terlalu jahat menerpa, aku mempercepat langkah. Dan, benar. Aku melihat pohon sakura yang begitu banyak saat di perempatan jalan. Sayangnya, aku masih belum bisa menyeberang karena lampu lalu lintas untuk pedestrian masih berwarna merah.



Dia, temanku, hanya terkekeh melihat tingkahku yang kekanakan. Dia pun mendekat sambil mengarahkan kameranya ke berbagai sudut. Tak mau kalah, aku merogoh ponsel di saku celana dan mulai menjepret apa pun. Ya, apa pun. Terus terang aku tidak paham dunia fotografi. Jadi, lebih baik kuambil foto banyak-banyak biar nanti difilter untuk kuunggah di media sosial.

Saat lampu untuk pedestrian berubah dari merah menjadi hijau, aku berlari-lari kecil menuju Osaka Castle Park. Taman itu dipenuhi pohon-pohon sakura yang indah. Benar-benar indah. Aku tak pernah terobsesi pada sakura karena bagiku itu hanya sekadar bunga. Namun, saat melihatnya, ada perasaan yang meluap. Seakan mekarnya sakura adalah hal yang sudah lama kutunggu. Ada perasaan ganjil yang seolah tadinya kukubur dan kini terbuka lagi.

Aku pun mulai sibuk mengabadikan momen lewat kamera ponsel. Tak hanya aku, temanku dan para pengunjung juga ikut sibuk swafoto dengan latar pohon sakura. Memang benar-benar indah. Bahkan, aku melihat beberapa orang melakukan hanami



Namun, saat setengah perjalanan menuju Osaka Castle aku tertegun. Bukankah sakura ini takkan selamanya selalu mekar? Saat musim berganti, mereka akan meranggas, lalu luruh digantikan daun-daun hijau. Anehnya, fakta umum itu membuatku terperenyak. Apakah memang sebuah keindahan itu tak pernah selamanya ada? Apakah memang sebuah hal yang menyenangkan itu selalu temporer? Apakah memang sudah seharusnya kau mengenal juga hal-hal buruk?

Sekonyong-konyong aku mencari sosok temanku. Entah kenapa aku mengingat hal-hal baik tentangnya meski dia kerap kali menyebalkan. Ternyata dia sedang sibuk berkutat dengan kameranya, mencari sudut-sudut terbaik yang mungkin akan dia pamerkan di Instagram. Lantas aku tersenyum rikuh dan menjauh beberapa langkah, membiarkan diriku mendekati bunga sakura terdekat.



Memang benar-benar cantik. Namun, bagaimanapun bunga-bunga itu akan luruh saat musim berganti. Mereka akan tertidur dan harus menunggu beberapa lama lagi untuk mekar. Mereka akan tergantikan. Dan hal itu membuatku bertanya-tanya. 

Aku. Sakura. Hidupku. Hidup orang lain.

Apakah kau pernah berpikir bahwa kehadiran seseorang yang membuatmu merasakan kebahagiaan adalah ibarat sakura di musim semi? Mereka muncul setelah kau melewati masa-masa sulit. Mereka adalah doa yang Tuhan rengkuh untuk melunasi masa-masa sulitmu. Namun, tetap saja mereka akan pergi dan hilang lagi dalam hidupmu. Lantas kau harus mengalami masa-masa sulitmu lagi, baru setelahnya akan dimunculkan sakura. 

Keegoisanku mengatakan aku tak menginginkan itu. 

"Lekas. Nanti bisa-bisa telanjur ramai di depan Osaka Castle," kata temanku, membuatku tersadar melamun terlalu lama saat menatap sakura berwarna merah muda keputihan.

Aku terkekeh, berusaha menutupi kerikuhan perasaanku lalu berjalan menyejajarinya. 

Mungkin, kau tak pernah sadar bahwa orang-orang di sekitarmu adalah sakura dalam duniamu yang terdiri dari empat musim. Mereka hadir hanya satu dari empat musim itu. Maka, ketika keberadaan mereka begitu dekat, jangan kau enyahkan dari pandangan. Bisa saja sakura-mu tak mekar lagi.

Dan dalam benakku bercokol satu pertanyaan, apakah temanku yang berjalan di hadapanku ini sakura? Kuharap dia bukan sakura. Kuharap dia adalah benda langit yang bisa memancarkan kilaunya sendiri. Dan semoga, aku bukanlah sakura di hidupnya.

Catatan: Foto diambil pada 12 April 2017 lewat kamera ponsel pribadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar