Rabu, 30 November 2016

Telanjur Basah

Pernah suatu saat aku berbicang dengan dua teman yang dulu dekat saat berorganisasi di kampus. Pembicaraan kami bisa dibilang tak tentu arah, seringnya melantur. Namun, kami paling sering membicarakan mengenai perihal jatuh cinta.

"Buatku cinta itu kayak kolam besar berisi air," saat itu Miranda mengatakannya dengan pandangan menerawang, setelah Bekti bercerita mengenai hatinya yang terus-terusan biru.

"Kolam berisi air?" Bekti mengernyit heran. 

Miranda berdeham. "Iya. Kamu harus berani tenggelam untuknya. Dan begitulah kamu sekarang. Kamu sudah tercebur. Bagaimanapun caramu berusaha untuk tidak tenggelam, kamu sudah basah. Bukankah sulit untuk mengeringkannya?"

Aku menyimak pembicaraan mereka dengan hati gamang. 

Jatuh cinta?

Kupikir aku belum memiliki keberanian untuk tercebur jika meminjam istilah Miranda. Aku hanya berani melongok, melihat dari permukaan. Aku sama sekali belum memiliki keinginan untuk merasakan basahnya kolam itu.

Selasa, 29 November 2016

Lagu dan Melankolia

Aku tenggelam dalam lagu yang kudengar lewat earphone ponsel, mengantarkanku pada hal indah nan kejam bernama melankolia. Kenapa bisa ada lagu yang terasa begitu nyata, seolah menceritakan kehidupanmu secara utuh tanpa celah? Bukankah itu berarti ada orang lain yang juga pernah berada di posisiku seperti sekarang? Maksudku, pencipta lagu itu. Bukankah itu artinya dia pernah merasakan hal serupa denganku, bahkan sebelumku? Atau teman dari pencipta lagu itu yang pernah berada di posisiku, yang mana ceritanya lah yang dituangkan dalam lagu?

Aku menggeleng-geleng gusar, merasa otakku makin melantur. Kuambil gelas di nakas, lalu kuteguk air mineral cepat-cepat. 

Aneh.

Hanya karena sebuah lagu, perasaanku berkecamuk. Atau memang, sebenarnya perasaan manusia yang gampang dibolak-balikkan oleh Tuhan lewat sebuah lagu? Aku tak pernah mengerti. Hanya saja, satu yang pasti perasaan manusia itu kompleks.

Senin, 07 November 2016

Kepada Musa


Kepada
Sukma Musa Antaprawiradiredja 



Apa kabar, Mus?

Entah kenapa gue lebih suka memanggil lo Musa daripada Kinoy atau Sukma. Sukma kedengaran kayak perempuan, sementara gue tahu sebrengsek apa kelakuan lo. "Musa" juga salah satu nama favorit gue, yang mana menjadi karakter utama di salah satu cerita gue. Jadi, meski lo sering misuh-misuh kalau gue manggil lo Musa, gue bakalan tetap memanggil lo Musa.

Dulu, Friendster benar-benar media sosial yang beken. Dan obrolan pertama kita itu di sana. Karena gue pasang profil tentang Harry Potter, lo nge-add gue. Dari situ, kita berteman dan ternyata lo salah satu teman brengsek paling asyik diajak bercerita.

Kepergian lo membuat gue yakin bahwa kehidupan itu memang lucu.

Umur lo masih muda, cuma beda dua tahun sama gue. Namun, lo udah mendapat gelar bachelor dengan jurusan Biomedicine. Jurusan yang sama sekali nggak familier karena gue sendiri anak IPS dan kata "biomedicine" benar-benar asing di telinga gue. Yang gue tahu pada akhirnya adalah jurusan itu nggak ada di Indonesia—bahkan sampai saat ini.