Senin, 31 Oktober 2016

Rabu, 26 Oktober 2016

Gadis yang Menunggu



Gadis itu sudah duduk berjam-jam lamanya.
Pandangan lurus ke luar jendela,
dengan wajah sendu.

Tak letih dia menunggu,
meski bokongnya sudah panas
dan perutnya sudah kembung
dengan bergelas-gelas es lemon.


Kamis, 06 Oktober 2016

Teruntuk Dy

Apa kabar, Dy?

Mungkin ini bukan pertama kalinya aku menulis surat, mengkristalkan pikiranku lewat aksara, bukannya menemuimu dan berdeklarasi langsung. Semoga kau tahu, aku tidak pandai memverbalkan apa yang kurasakan lewat tindakan.

Masihkah kau suka dengan candaan yang tak pernah berujung? Masihkah kau suka tertawa renyah saat merespons lelucon seseorang? Masihkah kau tampak menyebalkan saat merajuk?

Ah, bodohnya aku menanyakan hal itu kepadamu. Kebiasaan itu tidak akan berubah, bukan? Apa kau masih ingat bahwa aku kerap memergokimu sedang menatapku di kelas, lalu kau memalingkan wajahmu?

Dan saat-saat itulah yang kurindukan. Saat frekuensi pertemuan kita masih sering. Tatkala melihat senyummu adalah sesuatu yang tak langka. Waktu lampau yang begitu candu, bahkan sampai sekarang, di mana melihat bayangmu tak lagi ada.

Bahkan saat waktu berjumpa mulai susut karena kesibukan, kadang aku terus memikirkanmu, Dy. Dan mungkin beberapa waktu yang lalu adalah saat terakhir kita untuk bercerita, ya? Kau masih sama, tatapanmu pun masih sama.

Tapi aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa perasaanku sudah tidak layak.
Kata orang, I have to move on.