A fever has a peculiar kindness. It unties the knots you’ve spent years tightening. The body grows quiet first. Then, one by one, the questions climb out from wherever they’ve been hiding. They sit at the edge of the bed without asking permission, as if they’ve always known I’d eventually become too tired to send them away. The loud…
Read moreLately my days feel like walking through a temple before sunrise; the kind of quiet that doesn’t soothe, but forces me to hear everything I’ve been trying to ignore. I count expenses, hopes, and deadlines like prayer beads, unsure which one I’m actually praying to. My wallet sighs, my heart persists, and somewhere in the middle I wo…
Read moreKau datang padaku seperti malam yang tak sabar menutup tirai, dan aku membiarkan tubuhku jadi jendela tempat gelapmu masuk tanpa ketukan. Ada asap samar yang membuat segala jarak runtuh, seperti kabut yang menipu mata, dan tiba-tiba kita hanya dua tubuh yang bicara dalam bahasa retakan ranjang. Sumber: Unplash Biasanya aku mengunda…
Read moreLately, I’ve been thinking a lot about friendships; or at least, the kind of friendships that take shape when you have no real choice but to sit among the same people every day. They don’t quite feel like friendships in the truest sense of the word, though we often call them that for convenience. They remind me of high school. There…
Read moreSometimes I feel like the world is sprinting past me, leaving me behind in its trail of dust and neon. Everything moves so fast—people, technology, time itself—as though everyone else was born with wings while I’m still learning how to crawl. In this era of instant everything, I feel like a tortoise on a highway, inching forward whi…
Read moreYou will never truly read this. Perhaps your eyes will glide over these words, but they will not pierce you. They will not touch the soft, hollow place where a heart should be. You were always like that—gliding instead of arriving, touching instead of staying, looking instead of seeing. I write this from the black pit where you left…
Read moreI fell in love again—softly, suddenly. Not with a stranger, but with you . You didn’t knock. You slipped in between the sheets, between a breath and a bruise. You weren’t my first, but you felt like the first time I allowed someone to press their name into my marrow. A second love, tender and reckless. A ship I tried to build with …
Read moreKENIKMATAN berbalut rasa perih yang terjadi di diriku mungkin adalah batas toleransi penyerahan diriku terhadap seseorang. Ketika aku memasrahkan diri, itu berarti penerimaan. Yang mana mengindikasikan aku sudah mengetahui kurang dan lebih dari dirinya. Bukan sekadar tahu, tapi aku juga siap merengkuh hal-hal itu. Sayangnya, lagi-l…
Read moreKini aku tidak tahu apa yang harus kurasakan. Aku yang dulu ingin menaklukkan sang Raja Mata Tertuju justru diluluhlantakkan olehnya. Dulu aku pernah bermimpi menjadi pemain di wahananya. Namun, sang Waktu Terbatas mengolokku karena tidak ada sedikit pun kualifikasi yang tertoreh di hatiku. Serbatanggung, begitu katanya. Sang Raja M…
Read more“Kayaknya bakalan hujan deh,” ujarku sambil menengadah, mengamati langit yang tampak mendung. “Hawanya juga pengap banget.” “Nggak kok, langitnya aja yang memang abu-abu,” tukasnya sambil berjalan di belakangku dan ikut menuruni tangga di halte Transjakarta. Aku mendongak. Mungkin dia benar karena belakangan ini kualitas udara di Ja…
Read moreRasa kikuk menjalariku saat pertama kali berhadapan denganmu secara langsung. Apa yang harus kukatakan? Topik apa yang sebaiknya kulontarkan? Haruskah aku berbasa-basi denganmu? Kau hanya tersenyum dengan gaya yang terkesan pongah tapi malah menggemaskan di hadapanku. Sikapmu yang demikian justru membuatku rileks, mengingat-ingat ba…
Read moreAku tidak bisa mendefinisikan perasaanku terhadapnya. Rasa suka? Rasa ingin memiliki? Rasa nyaman? Tidak ada yang terasa tepat untuk mendeskripsikannya. Namun, lagi-lagi, saat kami bertemu, ada sebentuk penerimaan yang aneh. Rasa penerimaan akan segala sifatnya entah baik atau buruk. Saat dia memanggilku, saat dia memilih channel Yo…
Read moreSelesai kerja, aku meletakkan laptop kantor di meja. Aku mengambil smartphone , menilik linimasa media sosial, tertawa sesekali ketika ada konten yang lucu, lalu menggerutu saat melihat konten yang menurutku bodoh. Tidak terasa waktu berjalan cepat. Terkadang aku masih ingat waktu untuk makan, tidak jarang aku malah lupa makan. Sete…
Read moreRasa ciuman itu seperti pengkhianatan. Parfum pekat di sekitar lehernya masih bisa kuendus saat bibir kami saling berpagutan. Namun, indra perasaku mengaburkan rasa asam nikotin di lidahnya menjadi kenikmatan yang ingin kucecap terus-menerus. Namun, sekali lagi, rasanya seperti pengkhianatan. Aku memang lajang, tapi entah kenapa aku…
Read more“Kupikir kamu membatalkannya lagi,” ujarku sambil menatapnya lekat-lekat. “Nggak kok. Lagi pula, aku sudah di sini. Berarti aku nggak ingkar janji lagi, kan?” balasnya sambil meletakkan ransel di kursi samping nakas. Dia menatap sekeliling. “Kamar ini termasuk mewah ya, Mas.” Aku hanya mengedikkan bahu, membiarkannya asyik menjelaja…
Read more
Hi, this is my personal blog!
Get Connected with Me