Catatan Baru

By Tri Saputra Sakti - 10:51

Kadang memang harus ditampar keras-keras dan dihunjam rasa sakit yang bikin sembiluan untuk memahami rasa sakit dan menghargai kehadiran seseorang di hidup kita—atau setidaknya hidupku. 
Kalau mengilas balik lagi kejadian beberapa waktu lalu, aku merasa aneh. 

Ada beberapa pertanyaan yang bersemayam di benakku: “Apakah iya aku mengalami hal menyakitkan begitu? Apa iya ternyata aku bertahan melewatinya?” Padahal, jawabannya sudah kuketahui: iya. Toh sampai sekarang aku masih bisa bernapas dan hidupku, meski bukan yang terbaik, masih berjalan lancar. 


Sumber: pond5


Namun, ya, memang demikian.  

Dengan adanya hal tersebut, aku yang tersesat akhirnya bisa menemukan diriku. Aku yang lemah akhirnya bisa mengandalkan diri sendiri. Meskipun memang sampai sekarang aku masih belajar menyayangi diri, setidaknya aku tidak buta arah lagi.

Baca juga: Kaubilang

Aku mulai paham bahwa sumber rasa sakit hati berasal dari sebuah ekspektasi. Berekspektasi adalah tindakan manusiawi, tapi aku sudah belajar bagaimana meletakkannya agar tidak menelanku sampai akhirnya meninggalkanku dengan rasa yang menyiksa. Setidaknya, aku belajar.

Aku juga belajar, bahwa merasa terpuruk adalah hal yang sangat membuat seseorang merasa tidak enak. Jadi, aku tidak mau lagi berada di titik itu. Rasa-rasanya aku terus beranggapan memang garis start dan finis seseorang sungguhlah berbeda, tergantung peran masing-masing. Maka, aku berusaha melakukan peranku dengan sebaik-baiknya: sebagai seorang anak, seorang om, seorang adik, seorang kakak, seorang senior, seorang teman, seorang sahabat, seorang rekan kerja… atau apa pun itu.

Hubunganku dengan manusia lainnya juga menyenangkan. Dalam artian, aku sudah tidak berekspektasi akan apa pun. Jika aku memang bisa memberi, kenapa aku harus menuntut untuk menerima? Menerima sesuatu sekarang bagiku adalah bonus. Aku takkan lagi merongrong orang lain untuk memberikan hal yang setimpal untukku.

Baca juga: Perkara Cinta

Berbagai manusia yang tertarik padaku pun hinggap—bahkan bisa kubilang sangat banyak. Namun, aku tidak fokus pada hubungan seperti menjadi kekasih seseorang. Hatiku kubuka luas-luas, tapi bukan berarti aku menerima siapa pun yang mau mengerti aku. Aku akan lebih berhati-hati menyelami karakter seseorang: aku ingin pasanganku kelak juga tidak butuh seseorang untuk merasa bahagia. Dengan pondasi yang sama-sama kuat, mungkin sebuah hubungan juga bakalan susah goyah.

Sekarang, aku sedang menikmati proses diriku menjadi manusia. Yang mungkin saja, takkan pernah berakhir.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments