PANGKOH - 3

By Tri Saputra Sakti - 13:19

OKI
AKU menyortir barang-barang belanjaan di kamar hotel sambil memperhatikan Ranu yang bertelanjang dada karena kegerahan padahal pendingin ruangan sudah dinyalakan sejak sepuluh menit lalu. Melihatnya tanpa busana menyadarkan aku bahwa telah lama aku menanti-nantikan saat ini—aku begitu menginginkannya.

Aku kangen Ranu. Aku kangen akan afeksi yang biasa dia berikan untukku. Aku kangen sentuhannya. Namun, rasanya akan sangat memalukan kalau tiba-tiba aku menghampirinya, lalu memeluk dan menciumnya. Jadi, aku hanya menyengir melihatnya bertindak layaknya anak kecil yang baru saja dihukum berjemur dipanggang matahari.

Mungkin permasalahan yang mulai menghunjamku sejak beberapa bulan lalu menyebabkan aku membutuhkan sosok yang bisa menopangku. Tidak perlu solusi, hanya eksistensi. Aku butuh sosok yang duduk di sampingku. Dia tidak perlu tahu beban apa yang ada di pundakku. Dan yang kuketahui Ranu-lah sosok itu. Sosok yang kuinginkan, yang selalu ada di sampingku. Tanpa perlu melakukan apa pun, asal dia ada, semua akan terasa baik-baik saja.

Seperti yang kubilang, birthday trip-nya ini sudah kutunggu sejak lama: sejak aku kabur di Mojokerto, setelah perjalanan naik kereta dari sana ke Jakarta, setelah melakukan unpacking dan packing koper secara sekaligus dalam sehari. Bahkan telepon—juga video call—rutin yang kami lakukan saat aku di Mojokerto rasanya takkan pernah bisa melepas kerinduanku.

Aku ingat saat itu Ranu berkata padaku dengan muka semringah, “Ki, ini promo tiketnya lumayan banget. Dua jutaan naik Thai Airways ke Bangkok. Mau nggak? Pas ultah gue!”

Saat itu aku yang sedang mengerjakan pekerjaan lepas di laptop hanya menengok ke arahnya yang duduk di kasur sambil serius menatap layar ponsel. “Jangan buru-buru ah, Nu. Kita kan bakal ke Jepang Desember ini. Takut nggak ada budget.”

“Nggak masalah kok, Ki. Kita di sana kulineran aja, buat hotel on me deh, itung-itung traktiran ultah,” ujarnya. “Ya? Ya? Ya?”

“Hmm… tapi gue nggak bayar sekarang nggak apa-apa?” tanyaku, yang ketika itu merasa tidak enak dengan kondisi finansialku. Selama ini, meski gaji Ranu jauh lebih tinggi dibandingkan aku, aku cukup bisa mengimbanginya bersenang-senang. Ada pemasukan tambahan selain gaji standarku. Namun, sejak aku resign dan pemasukanku tidak menentu, ketakutan itu menjadi semacam momok, meski dana daruratku masih tergolong aman untuk dua tahun ke depan kala itu.

“Dua juta doang, Ki…” Ranu mengernyit, tapi akhirnya tersenyum. “Tapi nggak apa-apa sih, slow aja, bisa pake uang gue dulu.”

Aku mengangguk. “Nanti kalo fee kerjaan ini udah ditransfer, gue bayar langsung.”

No problem, Ki. Jadi sikat nih, ya?” Ranu menatapku.

Aku mengangguk dan tersenyum tipis.

Ketika memori itu muncul di benakku, aku tidak mengira bahwa justru aku yang amat menantikan pelesiran ke Bangkok ini. Bahwa keberadaan Ranu terasa lebih kubutuhkan daripada yang kuduga. Tidak bisa kumungkiri aku pernah berada dalam fase bosan padanya, tapi ternyata hal itu bisa kulewati dengan baik karena masalahnya ada pada diriku sendiri. Sekarang, di Bangkok ini, aku tidak mau terpaku pada masalahku. Aku ingin bahagia meski hanya sebentar di sini. Sebelum masalah-masalah itu menelanku ketika kembali ke Jakarta.




Sumber: Zastavki





“Kalo nanti udah dapet kerjaan, gue bisa tinggal bareng elo lagi nggak, ya?” tanyaku, berusaha bertanya dengan intonasi yang biasa-biasa saja.

Ranu menoleh ke arahku sambil meraih es teh. “Bisa-lah. Nanti sekalian pindah ke apartemen, mungkin? Males juga di kosan yang sekarang soalnya sempit banget.”

Aku tersenyum. Jawabannya itu membuatku cukup lega, setidaknya dia masih Ranu yang kukenal. Ranu yang selalu membuatku tenang. Dan entah kenapa mood-ku berangsur membaik hanya karena responsnya tersebut. Aku pun lanjut menyortir belanjaan milikku dan Ranu—yang mana kebanyakan belanjaan Ranu karena mesti membawa oleh-oleh untuk rekan kantornya. Sementara aku, karena sekarang pengangguran, tidak perlu membeli hal-hal demikian. Aku hanya beli sedikit untuk konsumsi pribadi.

“Siapa yang mau ke kamar mandi duluan?” tanyaku, tiba-tiba merasa mulas. Namun, tampaknya Ranu juga kepingin segera mandi karena mengeluh kegerahan sejak di Chatucak tadi.

“Gue dulu, ya? Gue gerah banget nih, Ki,” jawab Ranu.

“Lo sekarang angin-anginan dulu deh, gue mules!” tukasku sambil mengibrit ke arah kamar mandi, diikuti sorakan Ranu.

Belum sempat aku menurukan celana, pintu kamar mandi menjeblak terbuka, kemudian kepala Ranu muncul. “Ki, elo mau mandi, ya?”

“Iya, biar sekalian,” ujarku. “Sana gih, mau bakery nih!”

Ranu terkekeh. “Gue gerah banget, nanti biar efisien waktunya mandi bareng aja, ya?”

Aku terdiam sejenak, lalu mendengus.

“Ya? Biar efisien…” rajuk Ranu. “Ya? Ya?”

“Gue mules, Nu,” tukasku.

“Ya?”

“Iya, gih sana nanti lo kebauan,” usirku.

Ranu nyengir, lalu pergi dari hadapanku. Sikapnya barusan membuat sedikit harapan terbit di benakku: dia masih Ranu yang sama. Selesai dengan “urusan”-ku dan melepas pakaian, aku langsung memanggil Ranu.

Tidak lama kemudian, Ranu masuk ke kamar mandi dan ikut melepas pakaian. Dia langsung ke kubikel untuk mandi, sementara aku menuju wastafel, berniat untuk gosok gigi. Sesekali kulirik Ranu yang sibuk dengan shower, mengotak-atik agar air mengucur dengan suhu yang dia sukai. Pasti dia memilih air dingin, berbeda denganku yang lebih suka air hangat suam-suam kuku kalau mandi.

Selesai menggosok gigi, aku ikut masuk ke kubikel mandi. Kubikel tersebut sangat sempit, layaknya luas telepon umum berdinding kaca. Ranu sudah sibuk menggosok-gosok badannya dengan heboh—cara mandi Ranu yang tidak pernah kupahami.

Aku pun masuk ke kubikel. Karena sempit, jarakku dan Ranu hanya beberapa sentimeter. Aku mengulurkan tangan, menggapai kucuran air shower.

“Tumben air hangat,” ujarku.

“Lagi nggak mau air dingin,” kata Ranu, masih sibuk menggosok-gosok badannya.

Aku langsung berinisiatif menyentuh badan bagian belakang Ranu, lalu menggosoknya. “Nggak usah heboh mandinya, yang penting bersih.”

Ranu mengangguk tanpa menoleh ke belakang, ke arahku. Dia membiarkan tanganku menggosok badan bagian belakangnya. Dadaku berdesir. Kapan terakhir kali kami mandi bersama? Ranu selalu suka aktivitas ini, lebih-lebih saat kami mulai membaluri tubuh kami dengan sabun sehingga kulit terasa licin. 

Padahal dulu rasanya kami sering melakukannya. Dulu saat letupan-letupan itu lebih sering bersarang di pikiran kami. Dulu saat semua rasanya begitu mudah, dulu saat…

Your face looks innocent.” Ranu terkekeh, sudah berbalik badan dan menatapku. “Kenapa bengong?”

Aku tergagap, tiba-tiba pikiranku blank.

Ranu maju setengah langkah, merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Tanpa kuketahui tangannya sudah melingkar di pinggangku, menghapus jarak di antara kami. 

“Nu, gue mau gosokan dulu, elo kan udah.” Aku mendorongnya menjauh. Alasan utamanya adalah aku mulai sadar tubuhku merona malu karena gesturnya, sementara ketika kuperhatikan tubuhnya bereaksi biasa. 

Ya, bereaksi biasa.

Rasanya seolah karma sedang menghukumku: ketika keadaan menjadi terbalik karena biasanya tubuhnya yang mudah terprovokasi ketimbang tubuhku.

“Nggak mau bantuin?” tanyaku dengan nada tenang, berusaha menenangkan diri karena pikiranku mulai ke mana-mana.

“Pamrih banget sih,” gerutu Ranu, tapi tetap menggosok tubuhku dengan tangannya. Ya, meski aku tahu dia tidak pernah bisa membantu banyak soal hal ini. Ranu adalah seorang tuan muda yang lahir dari sendok emas. Hal kecil seperti merakit rak saja dia tidak pandai, apalagi menggosok begini? Namun, justru itu yang kusukai darinya. Dia berusaha bisa meski sebenarnya tidak mahir melakukan sesuatu.

Setelah itu kami membaluri tubuh kami dengan sabun. Dekatnya jarakku dengan Ranu membuat tubuhku makin merona. Ranu tampaknya juga sadar akan hal itu karena dia berkata pelan, “Abis selesai mandi, ya.”

  • Share:

You Might Also Like

0 comments