Selasa, 09 Mei 2017

Malam Sunyi dan Pikiran Berisik

Malam ini terlalu sunyi, bahkan bunyi hujan yang kubenci tak terdengar. Namun, isi kepalaku terlalu berisik. Aku pun berusaha mengenyahkan pikiran berisik itu dengan mengambil deretan buku fiksi di rak buku. Aku mengambil buku fiksi paling menarik, tapi nyatanya yang berkelindan di benakku tetap pikiran itu.

Aku yang terbiasa dengan arti sebuah aksara, tak mampu menafsirkan perasaan gelisah yang menggelayut sejak lama. Aku memikirkan banyak probabilitas yang nantinya akan terjadi. Kata "pergi" selalu menggodaku, bahkan mencibir keputusanku untuk tetap bertahan. Sialnya lagi, aku hanya bergeming dengan cemoohan itu.

Lantas, karena malam ini terlalu sunyi, benakku menjadi makin berisik. Karena memang, malam sunyi selalu membuat pikiranmu kerap berisik dan gaduh, kan?

Pergi.

Kata itu terdiri dari lima huruf, tapi mungkin dampaknya akan lebih dari lima tahun saat kulakukan sekarang. Jadi, apa yang harus kulakukan? Aku berusaha menenangkan diri dengan mengambil air dan membasuhnya nyaris ke sekujur tubuh. Namun, pikiranku justru makin berisik. Dia berteriak "pergi", disusul kata "sakit", "luka", dan "sembuh".

Aku berusaha mengalihkan pikiranku yang berisik dengan memusatkan fokusku pada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Lagi-lagi, tak bisa. 

"Seharusnya kau pergi lebih cepat. Dengan begitu, waktu untuk menyusun kembali hati yang sudah pecah itu makin banyak. Kalau kau menyeret-nyeret waktu, kau hanya membuat pecahan itu makin menyiksa. Jadi, sekarang saatnya pergi!"

Dengan demikian, haruskah aku pergi? Logikaku mengatakan begitu, tapi hatiku begitu enggan.

Lantas, aku teringat lagi kejadian yang membuat perasaanku biru. Saat itu aku melihatnya menangis. Tangisan itu terasa menyakitkan. Dan aku tak ingin melihat tangisan itu karena justru membuatku makin hancur. Jadi, aku bisa apa?

Kalau aku pergi, siapa yang akan membuatnya tenang? Atau justru... dengan aku pergi, dia bisa lebih tenang dengan penggantiku?

Malam tetap sunyi, tapi pikiranku makin berisik.

Apa yang sebenarnya terjadi pun, aku sebenarnya tak terlalu paham. Hanya saja, benakku mengatakan untuk segera "pergi". Mungkin jika aku benar-benar pergi, hal itu akan menyakitinya. Dan mungkin, luka yang diakibatkan takkan terlalu dalam. Sayangnya, luka yang mungkin kutanggung akan terlalu dalam. Namun, tak apa. Yang penting dia bisa lebih cepat memulihkan hatinya. Soal aku yang nantinya akan rusak dan pecah, bukan masalah. Bukankah aku memang terbiasa sendirian?

Mungkin aku memang harus pergi. Agar mulai terbiasa kembali berjalan sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar