Sehari Sebelum Dua Puluh Delapan

By Tri Saputra Sakti - 09:40

Sekarang pukul sebelas malam, satu jam lagi menjelang tanggal 13 April. Yang mana, artinya sedikit lagi aku akan berulang tahun. Aku kembali mengingat-ingat apa saja yang kulakukan hari ini.

Namun, di tengah pandemi dan ketidakpastian yang menggeliat-geliut, tampaknya hidupku stagnan di situ-situ saja. Tadi subuh aku bangun hanya untuk ibadah, lalu tidur lagi, lalu buang air besar, lalu tidur lagi, lalu bangun karena aku mengeset alarm di ponsel, lalu tidur lagi, lalu terjaga karena saat kulirik ponsel, salah satu temanku meneleponku tujuh menit yang lalu.

Tiba-tiba terdengar bunyi hujan di luar sana. Hmm… sejak tadi selepas magrib, langit memang sudah mendung dan sudah hujan. Jadi aku tidak terlalu terkejut kalau tengah malam ini hujan lagi.

Ah, distraksi.

Oke, aku tadi banyak mengobrol dengan dua teman dekatku—bahkan dengan menyebalkannya mengolok-olok patah hatiku. Dasar teman-teman brengsek! Namun, tentu saja bukan dalam arti buruk. Lagi pula, kondisiku berangsur membaik, tidak seperti sebelumnya. Jadi, ya aku paham kenapa aku diolok-olok sedemikian rupa.

Oh iya, tadi aku sempat mendapatkan speaker JBL Wind dari salah satu teman yang juga sedang membeli speaker ini. Dia bilang baru pesan kemarin malam—satu untuknya dan satu untukku. Katanya karena dia ingat aku suka mendengar musik. Aneh juga ya, dia tiba-tiba memberiku speaker begini. Katanya lagi, tidak apa-apa untuk early gift-ku. Jadi aku ya hanya perlu berterima kasih padanya. Lagi pula hadiah kan tidak boleh ditolak. 

Omong-omong, belakangan ini aku makin memahami kalau banyak sekali orang baik di sekitarku, yang selama ini luput kuperhatikan karena fokusku sering kali terpusat pada sosok yang kini sudah tidak memedulikanku. Ih, kok bisa ya? Tentu saja bisa. Aku kan dulu budak cinta—bucin—kayak kebanyakan orang. Jadi, lumrah saja dong. Kalau sekarang, aku masih bucin tidak, ya? Aku tidak bisa menjawabnya. Mungkin ya, mungkin tidak. Yang jelas, aku tidak mau itu terjadi. Aku mau mencintai diriku sendiri dulu sepenuhnya!



Eh, aku barusan mendapat pesan WhatsApp dari duo biang onar, katanya kemungkinan minggu depan hadiah dari mereka akan sampai. Oh! Aku belum kasih tahu, mereka bakal mengirimiku… RAK IMPIANKU! Benar-benar ya, ternyata mereka membaca twitku saat Maret lalu, kemudian memutuskan menghadiahiku rak itu. Bukannya matrealistis atau bagaimana, tapi aku sangat merasa mereka begitu perhatian padaku. Mungkin kalau dulu aku bisa membelinya dengan mudah, tapi sekarang rasanya sulit sekali. Namun, ya, terima kasih sekali buat mereka. Jadi aku bisa mendekorasi kamarku lagi agar lebih nyaman.

Duh, bunyi petir menggelegar dan derasnya air hujan yang turun terasa banget. Padahal aku menyalakan speaker-ku dengan volume maksimal, menikmati lagu ballad yang kuputar lewat ponsel. Eh, tapi aku memang suka lagu yang mellow—entah itu lagu jatuh cinta atau patah hati—kalau malam-malam biar cepat mengantuk. Aku punya masalah mengenai jam tidurku yang berantakan. 

Oke, lagi-lagi merepet ke mana-mana.

Baka.

Jadi, setelah mengobrol bareng dua brengsek itu, aku sempat latihan core. Mestinya sih aku latihan tadi pagi, tapi waktuku tersita oleh mereka karena sudah memborbardirku dengan banyak pertanyaan dan obrolan ngalor-ngidul yang tidak terasa—bahkan sampai malam tiba. Jadinya aku latihan core lewat aplikasi Adidas Training. Kebetulan salah satu temanku memberitahuku bahwa ada free trial tiga bulan untuk jadi anggota premium. Jadi, aku memanfaatkannya karena aku sudah kangen “gerak”. Habisnya, saat aku patah hati saat itu, aku kan pengin melampiaskannya dengan berlari alias comeback lagi. Bahkan hanya dalam beberapa minggu aku bisa mengembalikan endurance-ku. Gila ya, kekuatan patah hati itu besar banget! Aku sendiri tidak menyangka. Aku bahkan iseng berlari pace di bawah empat untuk… hmm… hanya dua kilometer sih. Namun, berhasil! Meski setelahnya napasku ngos-ngosan dan perasaan “meluap” karena kecapekan bisa kunikmati dulu. Eh, intinya aku tadi latihan core sebentar lalu cuci baju.

Kemudian ya aku memutuskan untuk menulis blog. Meski bacaan ini terasa terlalu aneh dan banyak distraksinya, aku hanya ingin menulis sesuatu. 

Kulirik desktop laptop. Setengah jam menuju peralihan hari. Barusan aku memfoto diriku sendiri dengan tab-ku, entah kenapa tebersit keinginan melakukannya, hahaha.

Besok mungkin aku akan menulis di blog lagi. Sekonyong-konyong aku berpikir untuk menulis ucapan terima kasih untuk orang-orang baik—dan satu orang yang aku sendiri tidak tahu mau kumasukkan ke dalam kategori apa tapi rasanya aku mesti menyebutnya. Ih, lagaknya kayak baru menerbitkan novel dan menulis ucapan terima kasih. But, well, rasanya itu perlu.

Wah, rasanya kantuk baru akan menyerangku pukul dua atau tiga dini hari lagi. Namun, besok aku sudah janji dengan temanku untuk menerjemahkan beberapa bab yang sudah dia berikan padaku. Rasanya besok energiku bakal cukup terkuras. Selain itu aku harus memoles beberapa dokumen lagi. Eh, bahkan aku lupa melanjutkan cerita Under the Milky Way—meski aku tahu hanya sedikit yang baca haha.

Ya sudah, rasanya aku siap mengepos tulisan ini. Sebelum mengepos, aku mau makan beng-beng dua bungkus dan dua Good Times ah!

  • Share:

You Might Also Like

0 comments