Rabu, 13 September 2017

Rumah Impian

Saat berusia delapan tahun, aku memiliki impian. Impian itu tak muluk, malah justru sederhana. Aku ingin memiliki rumah yang luasnya sama seperti rumahku sekarang—yang artinya tak terlalu besar dan juga tak terlalu kecil. Rumahku nanti memiliki halaman asri dengan pohon mangga, jambu, dan belimbing. Tak lupa kolam ikan kecil, juga petak-petak batu lonjong yang bertebaran di antara rerumputan. Rumah yang sederhana. Rumah impianku.

Saat itu aku memiliki impian memiliki pekerjaan yang tak kalah sederhana—meski aku juga tidak tahu apa pekerjaan sederhana itu nantinya. Dengan gaji yang bisa mencukupiku dan keluarga kecilku, juga merawat rumah impianku itu. Nantinya aku akan sering-sering membeli buku-buku kesukaanku untuk dibaca olehku dan pasanganku, yang tentunya jadi aktivitas saat kami terlalu letih dengan pekerjaan kami. Di rumah itu, ada empat kamar: satu kamar untukku dan pasanganku; satu kamar untuk anak tunggalku; satu kamar untuk tempat pasanganku melakukan hobinya; satu kamar yang hanya berisi rak buku dan buku-buku favoritku—juga favorit pasanganku.

Rumah impian yang terlalu sederhana—tapi kelewat spektakuler untuk anak laki-laki berusia delapan tahun. Namun, memang begitulah yang kuinginkan. Aku tak pernah ingin memiliki rumah mewah bak kastel yang selalu diidam-idamkan teman-teman sekolahku. Aku tak pernah memimpikan punya mobil mewah yang kata teman-temanku harganya miliaran rupiah. Aku hanya ingin rumah impianku itu. Aku tak peduli nantinya aku punya kendaraan pribadi atau tidak. Tak masalah asal aku memiliki rumah itu.

Sayangnya, seiring waktu yang merayap maju secara diam-diam, aku mulai melupakan rumah impianku. Aku mulai menjejakkan kaki di berbagai tempat yang membuatku terpaksa mengenyahkan impian sederhana itu. Aku dipaksa untuk melihat hal-hal melenakan yang membuat impianku itu seperti khayalan bodoh anak kecil.