entah sejak kapan
kehadiranmu berhenti menjadi peristiwa
dan mulai menjadi cuaca.
ada hari-hari ketika kau memenuhi benakku
dengan suara dan cerita yang tak habis-habis,
dengan ocehan yang membuatku ingin
menutup mulutmu dengan kesal,
lalu diam-diam mendengarkan lagi.
ada hari-hari lain
ketika kau jauh meski duduk di sebelahku,
dingin, sibuk dengan duniamu sendiri,
dan aku membencinya sedikit.
sebab rupanya bahkan jarak darimu
punya cara sendiri untuk membuatku ingin mendekat.
perhatianmu yang datang tanpa pengumuman.
cuekmu yang menyebalkan.
marahku yang kadang meledak
untuk perkara-perkara yang takkan kuingat
beberapa bulan dari sekarang.
aku menyukai kita
bukan ketika semuanya lembut,
melainkan ketika sesuatu retak sebentar
dan kita masih berada di sana
setelah bunyinya selesai.
aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya
tanpa membuat bahasa terdengar terlalu kecil.
aku suka membiarkan tanganku
tinggal di tubuhmu.
hangat kulitmu,
juga napas yang kadang berubah
hanya karena sentuhan sederhana.
seolah tubuhmu menyimpan
malam yang tidak pernah selesai.
aku suka ketika hasrat menghapus
kecanggihan dari wajahmu.
ketika napasmu mulai patah-patah,
ketika suaramu kehilangan bentuk,
ketika kenikmatan membuatmu
terdengar seperti seseorang
yang dipanggil dari tempat yang jauh.
ada sesuatu yang indah
dalam melihat seseorang
kehilangan kendali di hadapan kita.
melainkan karena kepercayaan
yang begitu telanjang
hingga tak lagi membutuhkan nama.
di dekatmu,
aku tidak terlalu pandai menyembunyikan diri.
aku bisa menjadi seseorang
yang bawel sampai pagi,
yang marah karena hal sepele,
yang terlalu banyak berpikir,
yang kadang ingin sendiri
lalu beberapa saat kemudian
ingin kausentuh.
mungkin aku tidak menjadi
lebih baik di dekatmu.
aku hanya menjadi lebih berani
untuk tidak selalu baik.
dan anehnya,
itu terasa lebih jujur.
aku kadang memikirkannya
seperti memikirkan pintu
yang sebentar lagi harus kita lewati.
di belakangnya ada segala sesuatu
yang sudah terjadi:
malam-malam,
pertengkaran,
tawa,
keringat,
diam,
juga tangan-tangan yang
saling mencari di bawah gelap.
dan di depannya
hanya ada hari-hari
yang belum kita kenal.
tidak ingin menjanjikan
apa pun yang bahkan belum terjadi.
dan tubuhku masih mengenali tubuhmu
bahkan sebelum tanganku menyentuhnya.
mungkin beberapa cinta
memang tidak datang
untuk diterangkan.
mereka hanya tumbuh perlahan
di antara kebiasaan dan hasrat,
di sela-sela marah dan rindu,
lalu suatu malam
kita sadar—
sudah terlalu banyak bagian dari hidup
yang berbau seperti seseorang.
dan aku takut
barangkali mulai sekarang
setiap kali mencium malam,
aku akan mencarimu di dalamnya.
hanya sedikit.
aku menyukai semua pertentangan itu.
dan tubuhmu—
bukan karena kuasa.
barangkali aku juga begitu.
tapi aku sadar
sebentar lagi satu lingkar waktu.
aku takkan memberinya nama.
malam ini cukup begini saja:
kau ada.
aku di sini.


0 Comments