Ankara di Bawah Purnama - 1

By Tri Saputra Sakti - 09:28

MALAM ini saatnya ciuman rasa kopi untuk Wina. Ciuman ringkas yang berujung pada aktivitas rutin di double bed empuk apartemennya. Di bawah remang lampu dan nuansa kamar apartemen berwarna cokelat itu, napas Wina dan Kopi Jantan beradu.

Wina mencoba fokus pada aktivitasnya, tapi pikirannya justru meruncing pada kerinduan yang menyayat. Kerinduan terhadap laki-laki Turki dengan mata kecokelatan yang selalu bisa memberikan keteduhan di hatinya.

“Erdem…” Wina mendesis, tiba-tiba teringat laki-laki yang memberi sayatan pada hatinya itu.

Kopi Jantan berhenti bergerak. Tatapannya menyipit. Senyum sabitnya berubah menjadi geraman. Dia benci ketika Wina menyebut nama laki-laki itu. Kopi Jantan langsung beranjak. Nafsunya yang tadi meluap perlahan teredam dan hilang. Raut wajahnya berubah seketika. Matanya nyalang menatap Wina. 

Dia beranjak dan langsung mengenakan pakaiannya lalu meninggalkan Wina sendirian di apartemen mewah itu.

Wina membiarkan Kopi Jantan pergi, padahal mereka belum klimaks. Tidak apa-apa, toh Wina sudah mencecap bibir rasa kopi yang mengingatkan akan ciuman lembut Erdem. Wina begitu yakin kalau amarah Kopi Jantan hanya sesaat karena Kopi Jantan sudah telanjur mencandu akan ritual malam itu.


Sumber: Wallpaper Flare


* * *


Dua tahun menetap di Ankara tidak lantas membuat Wina mengenal kota ini sepenuhnya. Baginya, Ankara tipikal kota-kota Eropa—meski Turki disebut berada di antara dua benua. Dia hanya ingat dua hal tentang Ankara. Pertama, tempat ini adalah ibu kota Turki, tempat pusat pemerintahan bercokol. Kedua, Ankara bukanlah kota pariwisata seperti Istanbul, meski keramahan masyarakatnya merupakan refleksi warga Turki. Dua hal itu selalu Wina ingat karena celotehan Erdem. Dia harus mengingatnya karena sungguh sulit sukar mendeskripsikan suasana Ankara pada kerabatnya. Bagaimana bisa Wina jabarkan dengan fasih suasana itu kalau dia sendiri hanya mengenal Ankara pada malam hari? 

Wina hanya bisa mendeskripsikan kemewahan apartemennya yang terletak di Distrik Kavaklıdere. Betapa Erdem menjaga Wina tanpa celah. Bagaimana Erdem memberikan kehidupan luks di kota antah berantah yang serbamahal. Hanya saja, Erdem tidak pernah memberikan eksistensi untuk Wina. Laki-laki Turki itu tidak pernah pulang ke pangkuannya. Padahal itulah penawar luka yang menganga di hatinya. Wina pun mencari alternatif lain untuk meredam bopeng di hati. Alternatif itu adalah tiga pria yang selalu datang pada malam-malamnya yang sunyi. Kopi Jantan, Aroma Rempah, dan Mata Maskulin.

Petang ini, Wina mengenakan jaket tebal dan duduk di kursi trotoar depan apartemen mahalnya. Sudah beberapa bulan dia lebih suka menunggu lelakinya di sana. Di tempat itu, Wina menikmati pemandangan saat orang-orang Turki yang suka pamer keberadaannya dengan mengeluarkan decit rem ketika memarkir mobil. Selain itu, dari tempatnya berada dia bisa mendengar beberapa mantra dari tempat ekaristi nan megah. Tempat sakral itu tidak jauh dari tempatnya duduk. Di tiap sudut bangunan itu terdapat menara seolah menara-menara itu melindungi bangunan intinya. Bangunan inti maupun menaranya terbungkus tudung warna abu-abu. Saat malam, bangunan itu terlihat mencolok karena cat putihnya yang benderang memantulkan cahaya, berbeda dengan bangunan-bangunan Ankara lainnya yang kebanyakan terlihat berwarna pastel jika malam tiba.

Ankara malam ini memiliki angin yang gemar mendesis lirih dan membuat tengkuknya meremang. Rahang Wina mengatup dan giginya bergemeletuk. Dingin begini selalu menimbulkan riak kerinduan untuk didekap, hal yang menyadarkan dirinya bahwa dia juga manusia yang diinginkan.

Tidak lama kemudian, Aroma Rempah datang. Dari radius beberapa meter Wina dapat mencium bau khas itu. Kalau sudah begini, Wina tidak bisa mengutuk udara Ankara yang menyergapnya sampai menggigil.

Tanpa bahasa, Aroma Rempah mendekap Wina. Dia menghirup bau tubuh Aroma Rempah. Setidaknya, pelukan itu adalah pelipur dahaga sementara akan atensi yang biasa Erdem berikan untuknya.

Dan seperti ciuman rasa kopi yang diberikan Kopi Jantan, pelukan Aroma Rempah itu berakhir di double bed empuk apartemennya. Karena bagi Wina, kehangatan sesungguhnya bukan menyembunyikan kulitnya dengan jaket tebal. Melainkan meloloskan kulitnya dari kain apa pun agar bersentuhan dengan kulit Aroma Rempah. Kehangatan yang tercipta dari aksi paling intim yang dapat dilakukan manusia.


* * *


Teaser klip "Ankara di Bawah Purnama"



Maafkan aku yang terlambat datang padamu, Wina…”

Suara itu terdengar lirih. Gumam yang mengganggu tidurnya yang lelap. Ketika membuka mata, Wina hanya dapat mendapati diri sedang meringkuk dalam pelukan Mata Maskulin. Cahaya lampu yang begitu benderang ikut mengusik Wina, sehingga dia harus melindungi matanya dengan telapak tangan.

Wina selalu menyalakan seluruh lampu di kamar apartemennya karena dia ingin melihat jelas pupil seperti topas itu. Wina suka dengan tatapan tajam tapi teduh milik Mata Maskulin.

“Aku bermimpi,” ujar Wina terbata-bata dengan logat Turki yang kaku.

“Mimpi buruk?” tanya Mata Maskulin.

“Seharusnya indah,” jawab Wina. Dia tidak ingin Mata Maskulin terluka hatinya karena Wina memimpikan Erdem saat bersamanya. “Sekarang pukul berapa?”

“Delapan malam,” jawab Mata Maskulin sambil Wina dengan tajam.

“Mau temani aku ingin keliling kota dengan berjalan kaki?” Wina minta persetujuan seraya mengalihkan pandangannya. Dia memang suka meminta hal yang aneh. Mata Maskulin sudah terbiasa dengan permintaan Wina yang sulit ditebak.

Mata Maskulin mengangguk. Mereka beranjak keluar dari kamar. Tangan mereka saling menggenggam, memberikan kehangatan yang menyelusup sampai hatinya untuk melawan hawa dingin yang menyergap. Angin malam usil menggerak-gerakkan rambut Mata Maskulin sehingga berantakan. Wina suka ketika rambut Mata Maskulin bergerak-gerak, mirip rambut Medusa.

Wina tahu bahwa Mata Maskulin menatap ke depan, tapi dia merasa diawasi juga olehnya. Ah, rasa itu memang selalu hadir jika bersama dengannya. Seperti saat Erdem berjalan dengannya.

Tiba-tiba mantra panjang mengalun dari tempat ekaristi terbesar yang tidak jauh dari apartemennya. Langkah Wina berhenti, jampi itu terasa menenangkan kalbunya.

“Aku suka sekali… suaranya mengalun indah sampai hatiku,” ujar Wina. “Apa kau suka?”

“Aku pun menyukainya, tapi aku tidak bisa melafalkan jampi itu untukmu,” Mata Maskulin berkata sedih.

Pikiran Wina menari-nari. Dia juga tidak tahu mengapa mantra itu kini terasa seperti candu. Sebelumnya, ketika Wina mendengar itu dia merasa biasa-biasa saja. Alisnya menyatu dan dahinya berkenyit. Dia memaksakan memori muncul di benaknya. Seharusnya ada alasan di balik itu semua.

Oh, dia ingat! 

Di mimpinya tadi, Erdem hadir dengan kain putih yang melekat pada tubuh tegapnya. Dia bisa melihat bulu-bulu yang mencuat dari dada Erdem dan lekuk tubuh laki-laki itu. Erdem dalam mimpinya begitu memesona. Dia bisa mengendus aroma tubuh Erdem, tapi di mimpinya tadi Wina tidak dapat melihat senyum di wajah laki-laki itu. Meski aneh mendapati kehadiran Erdem, gelora untuk mencecap bibir rasa kopi itu tetap besar. Mereka pun bergelut di atas ilalang. Wina menatap mata topas itu dan menghirup bau rempah-rempah yang menguar dari tubuh Erdem. 

Dia menatap lagi mata Erdem. Mata itu sudah menelanjangi Wina sebelum dia membuka bajunya. Setelah melakukan pergulatan paling mendebarkan antara mereka berdua, Wina dapat mendengar Erdem mengemu serangkaian kata asing yang candu di telinganya. Serangkaian kata yang mengilik seluruh indranya. Dia tidak tahu bahasa apa yang dilantunkan Erdem, karena dia tahu itu sama sekali jauh dari bahasa Indonesia maupun Turki. Senandung mantra itu pula yang terlantun dari tempat raksasa yang bertuliskan Kocatepe di depannya.

“Wina… jangan melamun,” ujar Mata Maskulin. Betapa kelopak itu mirip dengan Erdem.

Wina tergugu. Air mata meluncur di pipinya yang mulus. Dia tidak bisa menahan rasa sakit yang mendera. Rindu yang mencabiknya terlalu beringas. Mata Maskulin terlihat panik melihat Wina yang menangis. Didekapnya Wina. Wina pun meraung. Sungguh, tidak bisa dia tahan rasa sakit itu. Mungkin pelukan adalah tindakan yang tepat untuk menyemah perasaannya yang luka. Namun, dia ingin didekap dengan aroma rempah yang keluar dari tubuh Erdem. Meski begitu, tetap saja Wina membalas pelukan Mata Maskulin. Orang-orang yang melihatnya mungkin hanya berpikir ada sepasang kekasih sentimentil di ujung jalan yang saling membagi duka.


* * *


Bersambung ke


Cerita pendek dengan judul yang sama ini pernah dimuat dalam 
buku antologi cerita pendek Kata Kota Kita yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. 
Penulis saat itu memakai nama pena Tsaki Daruchi.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments